The Name of the Rose (1986): Misteri Pembunuhan dalam Biara Abad Pertengahan

the name of the rose pembunuhan biarawan
20th Century Fox, Columbia Pictures

Who, in the name of God, is getting away with murder?

Tema tentang kehidupan biarawan atau biarawati yang dikombinasikan dengan elemen thriller sangat jarang dirilis dalam film. Film The Name of the Rose merupakan produksi gabungan antara Italia, Jerman Barat dan Perancis.

Diadaptasi dari sebuah novel laris berjudul Il nome della rosa karya Umberto Eco, narasinya berkisah tentang misteri pembunuhan di dalam biara yang berlangsung pada abad pertengahan, saat Gereja Katholik memegang kendali atas kekuasaan politik.

Banyak elemen yang terlibat dalam cerita tersebut, dengan menggunakan semiotika fiktif, analisa Alkitab (Bible), studi abad pertengahan serta teori sastra.

Dalam upaya menyelidiki misteri pembunuhan, maka sang tokoh utama adalah seorang biarawan, dengan gabungan karakter berdasarkan figur populer seperti detektif Sherlock Holmes dan biarawan-filusuf William of Occam.

Film yang disutradarai oleh Jean-Jacques Annaud dan dibintangi oleh mendiang Sean Connery yang didukung oleh sejumlah aktor internasional itu, gagal dalam perolehan box office di Amerika namun sukses di Eropa.

Baca juga: Quest for Fire (1981): Petualangan Manusia Purba Mencari Api

Italia Utara tahun 1327, seorang narator lanjut usia bernama Adso of Melk mengisahkan kilas balik peristiwa yang ia alami saat masih muda (Christian Slater) dan menjadi murid biarawan Ordo Fransiskan bernama William of Bakersfield (Sean Connerry).

Mereka berdua mendatangi sebuah biara Ordo Benediktin yang dikenal akan penerjemahan terhadap sejumlah literatur klasik, guna menghadiri pertemuan dengan utusan Paus. Disambut oleh Kepala Biara (Michael Londsdale), William segera mengetahui ada seorang anggota mereka baru saja meninggal bernama Adelmo.

sinopsis film the name of the rose
20th Century Fox, Columbia Pictures

William cukup dilematis saat Sang Kepala Biara akhirnya meminta tolong dirinya untuk menyelidiki misteri kematian Adelmo, sedangkan mereka sendiri akan memanggil Bernardo Gui (F. Murray Abaraham) perwakilan inkuisisi resmi Gereja Katholik Roma.

Akibat tekanan tersebut, dengan cepat William berdeduksi bahwa Aldemo melakukan bunuh diri untuk menenangkan para biarawan, namun tak lama kemudian seorang biarawan bernama Venantius ditemukan tewas dengan cara yang mengerikan.

Keresahan diantara para biarawan tersebut kembali hadir, terlebih saat adanya provokasi yang mengaitkan aspek supranatural serta ramalan Alkitab, semakin menakutkan mereka. Karena adanya dugaan pembunuhan, dengan segera William kembali menyelidiki aktivitas terakhir Aldemo yang meninggalkan sebuah manuskrip bertuliskan bahasa Latin.

Akankah William mampu memecahkan sebuah misteri pembunuhan para biarawan tersebut?

Dipaparkan secara menakjubkan melalui visual indah akan latar pemandangan berupa hamparan pegunungan dan tebing sunyi nan terisolasi dalam musim dingin di abad pertengahan, film The Name of the Rose langsung menghadirkan atmosfir kuat akan adanya aroma suspense thriller misterius.

Melalui kombinasi sorotan kamera dari ketinggian dengan jarak jauh, tampak jelas suasana saat karakter William dan Adso berkuda menuju sebuah biara lengkap dengan menara yang menjulang tinggi, berada di ujung jalan setapak pada puncak pegunungan.

review film the name of the rose
20th Century Fox, Columbia Pictures

Sedangkan di bawah tebing dekat dengan komplek biara, tampak beberapa pemukiman penduduk miskin yang memperebutkan sisa makanan yang dibuang dari biara tersebut. Dari situlah karakter Adso mengalami gejolak batin dalam jiwanya mengalami serta merasakan adanya cinta dalam dunia, berkenaan dengan sosok perempuan yang dijumpainya.

Apakah hal tersebut menjadi basis judul “The Name of the Rose” dari sudut pandang Adso sebagai narator kisahnya terhadap perjumpaan cintanya tersebut?

Padahal premis utamanya yakni latar belakang terjadinya peristiwa pembunuhan beberapa biarawan, yang terkoneksi dengan literatur dan filosofi, hingga diuraikan kepada motivasi serta alasan kuat dari sejumlah pihak yang terlibat di dalamnya, baik sebagai pelaku maupun korban.

Sungguh sulit menemukan sumber bahwa mengapa memakai judul “The Name of the Rose”, tampaknya memaksa audiens film atau pembaca novel harus menafsirkannya sendiri, mengingat gaya sastra yang semiotik, tidak mudah dicerna begitu saja.

Walaupun demikian, dalam filmnya Jean-Jacques Annaud mampu mengarahkan sebaik mungkin kepada audiens, dengan menjaga alur cerita secara cermat dan waspada, menyajikan aura misterius yang sulit dibedakan apakah ada keterlibatan aspek mistis, memberikan ruang untuk humor gelap, serta ritme yang stabil.

Dialognya pun cukup menguraikan dengan jelas, terutama dalam penyampaian berupa deduksi dari karakter William yang kaya akan pengetahuan dan intelegensi. Perannya yang dimainkan oleh Connery begitu pas dan menyatu, sebagai sosok yang tenang dan berwibawa, karena peran sentralnya yang gemilang.

the name of the rose misteri biara abad pertengahan
20th Century Fox, Columbia Pictures

Muridnya yakni Edso yang diperankan Christian Slater remaja, tampak begitu polos namun mampu belajar dengan cepat. Selain itu, terdapat sejumlah karakter unik dan sungguh sulit untuk menebak siapa diantara mereka yang merupakan pelaku pembunuhan.

Sang Kepala Biara terlihat misterius dan tampaknya menyembunyikan sesuatu, biarawan senior Venerable Jorge pun demikian dengan penampilan menyeramkan sebagai seorang yang buta, Malachia penjaga perpustakaan dengan sosok kurus-jangkung bagaikan figur 'horor kartun', Berengar si gemuk berkulit albino, maupun Remigio yang kasar.

Biarawan Fransiskan senior yakni Ubertino of Casale pun tampak menakutkan, sebagai seorang yang meyakini kekuaan supranatural jahat terhadap peristiwa pembunuhan itu, bahkan dalam salah satu adegan dialog dengan Adso, terasa begitu janggal dan merinding.

Sang inkuisitor kejam, Bernardo Gui diperankan sangat baik dan meyakinkan oleh F. Murray Abaraham, dalam pandangan umum bisa dikatakan sebagai sang ‘antagonis’. Namun performa brilian Ron Perlman sebagai “The Huncback” Salvatore begitu menagumkan akan penampilan fisik yang didukung dengan kegilaan jiwanya.

Semua karakter tersebut begitu mewarnai petualangan William dan Adso dalam menyelidiki misteri pembunuhan di dalam biara yang menyimpan rahasia terpendam serta penuh kejutan itu.

Seperti yang telah saya sebutkan di awal, setting berupa landskap yang menakjubkan jelas mendukung visual yang pas sesuai dengan temanya, juga bangunan bergaya Gothic megah nan misterius dari biara itu sendiri, baik eksterior maupun interior-nya.

ulasan film the name of the rose
20th Century Fox, Columbia Pictures

Adegan saat William dan Adso mengeksplorasi di dalam menara biara, tampak sebuah labirin yang terdiri dari banyak ruangan perpustakaan serta unit tangga yang membingungkan sekaligus mengagumkan, berkat arahan akan sekuen adegan yang menuntun audiens mengikuti arah kedua karakter tersebut.

Tak hanya disitu, saat mereka berdua tersesat dan terpisah, adegan tersebut menjadi salah satu favorit saya, karena disajikan begitu intens namun tetap natural dalam aura misterius yang sunyi senyap, hanya ada komunikasi mereka berdua diiringi gema akibat jarak yang semakin jauh diantara mereka.

Alunan musik yang dimainkan James Horner sejak kredit pembuka hingga dalam adegan tertentu, sangat terdengar meyakinkan serta terasa akan petualangan mendebarkan sekaligus menggigil. Adapun dalam adegan akhir penutup cerita, sangat terasa memilukan sebagai hasil akhir akibat ketegangan dalam adegan sebelumnya.

Film The Name of the Rose tampaknya menyampaikan bagaimana situasi buruk terjadi dalam abad pertengahan sebelum Renaissance, saat organisasi keagamaan begitu dominan dan memiliki wewenang dalam mengatur segalanya, termasuk penghakiman subjektif yang kejam dan tidak mansiawi.

Karakter William of Barkersville boleh dikatakan sebagai salah satu sosok pembaharu yang memiliki visi serta pandangan luas dan objektif dalam menilai suatu perkara, melalui referensi akan pemikiran para filusuf legendaris yang hidup pada masa sebelumnya.

The Name of the Rose tak hanya sebagai film yang mengisahkan misteri pembunuhan di dalam sebuah biara pada abad pertengahan, namun mengajak audiens untuk kritis terhadap nilai kemanusiaan berkenaan dengan moralitas serta filosofi kehidupan dari adanya ajaran keyakinan.     
       
Score: 4 / 4 stars

The Name of the Rose | 1986 | Drama, Misteri, Historikal | Pemain: Sean Connerry, F. Murray Abaraham, Feodor Chaliapin Jr., William Hickey, Michael Londsdale, Ron Perlman, Christian Slater, Valentina Vargas | Sutradara: Jean-Jacques Annaud | Produser: Bernd-Eichinger, Bernd Schaefers | Penulis: Berdasarkan novel The Name of the Rose karya Umberto Eco. Naskah: Andrew Birkin, Gérard Brach, Howard Franklin, Alain Godard | Musik: James Horner | Sinematografi: Tonino Delli Colli | Distributor: 20th Century Fox (Amerika Utara), Columbia Pictures (Internasional) | Negara: Italia, Jerman Barat, Perancis | Durasi: 131 Menit

Comments