Zack Snyder Kembali Bermain dengan Zombie melalui ‘Army of the Dead’

army of the dead zack snyder zombie
Netflix

Di jaman sekarang, ciri khas zombie dalam film adalah lincah pergerakkannya, bagaikan binatang gesit dengan tenaga yang teramat kuat.

Zack Snyder merupakan salah satu sineas yang memulai debutnya dalam film horor yakni versi baru dari Dawn of the Dead (2004).

Film tersebut menandakan generasi baru akan karakterisasi zombie lincah bagaikan dalam dunia komik, sekaligus menjadikan Dawn of the Dead layak diperhitungkan sebagai salah satu film remake terbaik, meski saya lebih menyukai versi orisinal karya George Romero yang dirilis tahun 1978 begitu superior dan unggul.

Setelah sukses sebagai sineas film superhero dan action fantasy, dalam kurun waktu tujuh belas tahun, Snyder kembali bermain dengan zombie, seakan bernostalgia terhadap film perdananya.

Baca juga: 10 Sineas yang Memulai Debut Film Horor

Army of the Dead boleh dikatakan sebagai film zombie heist kelas B yang mengabaikan pemikiran atau logika dasar, karena murni sebagai sesuatu yang menghibur audiens.

Filmnya sukses mengudara dalam jaringan Netflix yang disaksikan sebanyak 72 juta orang dalam waktu empat minggu pertama, setelah sebelumnya tayang terbatas di sejumlah bioskop, mengingat pandemi COVID-19 belum berakhir.

Film Army of the Dead mengisahkan terjadinya insiden di sebuah jalan raya dekat Area 51, sehingga mengakibatkan kaburnya zombie menuju kota Las Vegas dan menginfeksi penduduk disana.

Kesulitan pemerintah dan militer dalam mengatasi hal tersebut akhirnya menjadikan Las Vegas terisolasi dan dikelilingi oleh area karantina yang diawasi ketat.

review ulasan sinopsis army of the dead
Netflix

Seorang pemilik kasino, Bly Tanaka (Hiroyuki Sanada) mendekati Scott Ward (Dave Bautista), seorang tentara bayaran sekaligus salah satu yang bertahan hidup terhadap serangan zombie, untuk mengambil sejumlah uang dalam brankas, sebelum pemerintah menjatuhkan bom nuklir di kota tersebut.

Ward yang membutuhkan uang, menyetujuinya meski lokasi brankas di dalam hotelnya terkepung dalam area zombie. Ia pun mengumpulkan sejumlah teman dan merekrut anggota baru.

Sementara putri Ward yakni Kate (Ella Purnell) yang bekerja sebagai salah satu petugas karantina, memiliki hubungan buruk dengan ayahnya itu. Ward meminta bantuan Kate dengan adanya akses memasuki Las Vegas, melalui salah satu penjaga yang berfungsi sebagai pemandu mereka disana.

Kate akhirnya bersikeras bergabung bersama kelompok Ward, setelah temannya melarikan diri dari karantina menuju Vegas.

Seperti biasa, sejumlah film yang digarap oleh Snyder biasanya memiliki gaya unik, terutama dari aksi laga spektakuler beserta dengan sinematografi estetis –seperti yang ia lakukan sendiri dalam Army of the Dead- yang mampu memompa adrenalin ataupun emosi audiens.

Tak terkecuali dalam film ini, penggunaan sejumlah lensa kamera digital yang didukung oleh perusahaan Red Digital Cinema, sehingga menghasilkan depth of field, ketika terjadinya kekontrasan antara fokus objek utama yang tersorot tajam dengan sekitarnya yang menjadi blur (kabur) dan halus.

Hal itu mengesankan seperti melihat foto produk untuk mempromosikan figurin dengan dioramanya, terutama pada sejumlah adegan yang memperlihatkan beberapa figur zombie. Aksi laga seru dan mendebarkan, ditambah dengan efek spesial yang lumayan menghibur, memang sudah tak asing lagi, yang menjadi ciri khas Snyder.

Meski memiliki aroma nostalgia saat Snyder kembali bermain dengan zombie, namun kali ini film Army of the Dead sangat buruk dari sisi penceritaan dan karakterisasi, yang bagi saya cukup krusial dalam menikmati di setiap adegannya hingga akhir.

army of the dead film zombie heist
Netflix

Figur utama Scott Ward tampaknya tak punya pilihan hidup, selain terobsesi dengan sejumlah uang yang ditawarkan, meski beresiko tinggi menghadapi ancaman para zombie yang bakal menghilangkan nyawanya.

Hal itu juga berlaku pada semua anggota yang cenderung memiliki peluang mati lebih besar, alih-alih mendapatkan sejumlah uang dalam jumlah besar, sungguh aneh!

Memang hubungan ayah-anak yang ingin diperbaiki melalui dinamika pasang-surut figur Scott-Kate, menjadi isu utama di film ini sejak sekilas memperlihatkan bagaimana saat keluarga mereka diserang zombie.

Kekonyolan sekaligus kebodohan terbesar Kate secara spontan adalah bagaikan mengorbankan dirinya sendiri hanya demi sahabatnya yang melarikan diri, sungguh terlalu!

Hal tersebut diperburuk dengan sejumlah karakter figur pendukung yang tidak pernah menarik, baik melalui dialog maupun aksi laganya, seperti “Tom Cruise” versi wanita tomboy Marianne Peters, hingga lebaynya gaya Mikey Guzman.

Yang terparah adalah Ludwig Dieter yang bermaksud ingin melakukan humor namun tidak lucu sama sekali, sehingga menghasilkan komedi ala banci. Mungkin yang sedikit lumayan adalah figur Vanderohe yang terkesan lebih cool, serta tidak banyak tingkah dan gaya.

Bahkan adalam adegan pembuka pun, kebodohan dua tentara yang membawa truk berisikan zombie, sedang mengobrol dan tidak memperhatikan jalanan, begitu memprihatinkan! Sedangkan konsep cerita kelompok zombie
antagonis “Alpha” cukup menarik meski secara samar mengingatkan saya akan film The Omega Man (1971).

Mohon maaf Snyder, setelah saya memuji anda dalam Zack Snyder’s Justice League, kini saya harus “mencerca” anda dalam Army of the Dead.

Score: 0.5 / 4 stars

Army of the Dead | 2021 | Horor | Pemain: Dave Bautista, Ella Purnell, Omari Hardwick, An de la Reguera, Theo Rossi, Matthias Schweighöfer, Nora Arnezeder, Hiroyuki Sanada, Tig Notaro, Raúl Castillo, Huma Qureshi, Garret Dillahunt | Sutradara: Zack Snyder | Produser: Deborah Snyder, Wesley Coller, Zack Snyder | Penulis: Zack Snyder. Naskah: Zack Snyder, Shay Hatten, Joby Harold | Musik: Tom Holkenborg | Sinematografi: Zack Snyder | Distributor: Netflix | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 148 Menit

Comments