Ulasan Film ‘The Fear Street Trilogy’

review sinopsis fear street trilogy netflix
Netflix

Seingat saya, pada medio 90’an di Indonesia nama R.L. Stine populer melalui dua serial novel, yakni Goosebumps untuk kalangan pra-remaja, serta Fear Street untuk konsumen remaja hingga dewasa muda.

Serial novel Fear Street sendiri sudah mulai terbit sejak tahun 1989 dan menghasilkan beberapa serial sempalan seperti Ghosts of Fears Street dan Fear Street Seniors. Hingga kini novel Fear Street telah tejrual lebih dari 80 juta kopi.

Adapun lokasinya merupakan objek kunci dari narasi Fear Street secara keseluruhan, yakni sebuah kota fiktif yakni Shadyside yang didirikan oleh keluarga Fear dengan perubahan dari nama asli “Fier”. Kutukan terjadi antara keluarga Fear dengan keluarga Goode berkenaan terhadap isu praktek okultisme.

Umumnya, premis di setiap novel menyajikan kisah yang berdiri sendiri dengan menghadirkan figur utama yang berlainan, meski terkadang sejumlah figur tertentu hadir di beberapa novelnya, dalam setting waktu modern di masa itu antara akhir 80’an hingga 90’an.

Adalah 20th Century Fox yang mengembangkan serial Fear Street untuk diadaptasi ke dalam format film, namun karena proses akuisisi oleh Disney, maka kepemilikannya dibeli Netflix.

Para penulis naskah adaptasinya termasuk sineas Leigh Janiak akhirnya mampu mewujudkan adaptasinya ke dalam trilogi yang kerap disebut The Fear Street Trilogy, yang dibagi melalui tiga setting waktu yang berbeda terhadap kronologi waktu yang dihitung mundur mulai tahun 1994, 1978 hingga 1666.

Berikut adalah masing-masing sinopsis dari The Fear Street Trilogy beserta ulasan singkatnya:

review sinopsis fear street part one netflix
Netflix

Fear Street Part One: 1994

Sejumlah pembunuhan sudah tidak asing bagi penduduk Kota Shadyside yang dikenal karena kutukan seorang penyihir bernama Sarah Fier, karena diamini oleh banyak remaja yang meyakininya.Sementara hal kontras terjadi di kota tetangga yakni Sunnyvale yang hidup makmur jauh dari kejahatan.

Adalah Deena Johnson (Kiana Madeira) seorang remaja Shadyside yang putus dengan kekasihnya Samantha (Olivia Scott Welch) yang pindah ke Sunnyvale, sedangkan kedua sahabatnya Simon (Fred Hechinger) dan Kate (Julia Rechwald) berjualan narkoba.

Adik Deena yakni Josh (Benjamin Flores Jr.) adalah seorang kutu-buku yang gemar menyelidiki sejarah terhadap misteri Shadyside dan Sunnyvale.

Insiden perkelahian pun terjadi antara murid Shadyside dan Sunnyvale, setelah acara peringatan bersmaa atas kematian terhadap sang pembunuh maupun korban di Shadyside Mall karena keduanya adalah murid Shadyside.  

Sejak Sam mendapatkan visi tentang Sarah Fier, maka sejumlah kejadian mengerikan pun dialami oleh Deena, Josh, Simon dan Kate yang dikejar oleh beberapa figur pembunuh misterius

review sinopsis fear street part two netflix
Netflix

Fear Street Part Two: 1978

Musim panas 1978, Ziggy Berman (Sadie Sink) seorang murid Shadyside adalah salah satu peserta kemah musim panas di Camp Nightwing yang diselenggarkan bersama dengan murid Sunnyvale.

Ia kerap mendapat bully oleh kelompok Sunnyvale yang dipmpin oleh Sheila. Ketika ia hendak digantung dan dibakar karena dituduh sebagai penyihir, siswa senior yang menjadi pembina yakni Nick Goode (Ted Sutherland) dan Kurt mencegahnya.

Kakak Ziggy yakni Cindy (Emily Rudd) beserta kekasihnya Tommy (McCabe Slye) yang sedang membersihkan fasilitas perkemahan, seketika diserang oleh perawat Lane yang merupakan ibu dari Ruby Lane seraya mengatakan bahwa Tommy telah dikutuk dan akan mati malam itu juga.

Perawat Lane langsung diamankan polisi, sementara para murid Sunnyvale meyakini bahwa perawat Lane dan putrinya Ruby dirasuki Sarah Fier. Tak lama kemudian Cindy, Tommy berserta Alice (Ryan Simpkins) dan Arnie (Sam Brooks) tak sengaja menemukan buku harian perawat Lane yang menjadi petunjuk lokasi rumah keluarga Fier.

Sesampainya di lokasi, horor sesungguhnya dimulai saat terjadinya pembantaian mengerikan yang menyerang para peserta kemah musim panas di Camp Nightwing.

review sinopsis fear street part three netflix
Netflix

Fear Street Part Three: 1666

Deena (Kiana Madeira) mendapatkan visi ke dalam perspektif Sarah Fier kembali ke tahun 1666, saat pemukiman warga yang disebut Union belum terbagi menjadi Shadyside dan Sunnyvale. Ia tinggal bersama dengan ayahnya dan adiknya yakni Henry (Benjamin Flores Jr.).

Suatu malam Sarah beserta Lizzie (Julia Rechwald) dan Hannah (Olivia Scott Welch) menemui seorang janda untuk mengumpukan buah beri sebagai hidangan pesta dan tak sengaja menemukan sebuah buku berisi ilmu sihir hitam.

Dalam pesta tersebut, Caleb (Jeremy Ford) menggoda Hannah namun ditolaknya. Sarah dan Hannah lalu meninggalkan pesta untuk kemudian bercumbu, namun diam-diam diintip oleh Mad Thomas (McCabe Slye).

Sejumlah peristiwa mengerikan pun mulai menimpa pemukiman Union, saat Sarah dan Hannah dituduh sebagai biang kejahatan dan okultisme, karena kesaksian yang memberatkan mereka, sehingga menjadi terdakwa yang akan dihukum mati.

Untuk menyelamatkan Hannah, Sarah bermaksud untuk mengorbankan dirinya dengan perjanjian dengan iblis, dengan cara mencuri buku ilmu sihir dari seorang janda. Namun hal diluar dugaan terjadi saat dirinya menemukan bahwa sang janda tewas terbunuh dan buku tersebut hilang.

Secara keseluruhan, narasi dari trilogi film Fear Street atau The Fear Street Trilogy bukan merupakan adaptasi langsung dari novelnya, melainkan mengambil basis yang sama dari sejumlah elemen tertentu, seperti kutukan, okultisme dan supranatural, keluarga Fier dengan keluarga Goode, hingga kota Shadyside dan Sunnyvale.

Dalam garis waktu, tahun 1994 merupakan awal penyelidikan yang dilakukan oleh para figur protagonis dalam serangkaian aksi mereka dalam menghadapi kutukan yang menimpa Shadyside. Tahun tersebut merupakan titik awal sekaligus titik akhir cerita dalam menggali misteri Sarah Fier yang melegenda.

Tahun 1994 menyajikan suasana nostalgia dalam era itu, sebagaimana terinspirasi dari film slasher ikonik seperti Scream (1996) terutama pada adegan pembuka. Lokasi di Shadyside Mall mengingatkan akan sejumlah film era 70’an hingga 90’an, khususnya dalam genre horor seperti Night of the Living Dead (1978) maupun Chopping Mall (1986).

Sosok pembunuh dalam Camp Nightwing yang terjadi di tahun 1978 terlalu lekat dengan Jason Voorhees dan sejumlah horor slasher tipikal di era 80’an, terlebih saat kepalanya tertutup karung kentang, begitu mirip dengan apa yang terjadi dalam Friday the 13th Part II (1981).

Sedangkan yang terakhir di tahun 1666 pada masa kolonialisme, tidak jauh dari hal yang berkenaan dengan okultisme dan sosok penyihir, sebagai isu yang kerap kali muncul dalam komunitas relijius namun picik. Banyak sekali contoh film tentang “folk horror” (horor berdasarkan tradisi masyarakat jaman dahulu) terutama produksi Inggris.

ulasan film fear street trilogy netflix
Netflix

Aspek LGBTQ yang terjadi pada figur sang protagonis utama yakni Deena dan Samantha memang mengejutkan, begitu pula dengan sikap ambigu Simon sebagai figur pendukung di bagian pertama film.

Padahal era 90’an terlebih dalam film horor slasher, umumnya hal tersebut tidak terekspos. Maka dengan skeptis saya pun mulai bertanya-tanya, sejak di masa kini sudah ada penekanan sosial akan hal tersebut dalam budaya populer khususnya film.

Untung saja sang penulis memperlakukan karakter Deena dan Samantha baik adanya, tanpa adanya politik identitas yang berpotensi menghancurkan waralabanya itu sendiri.  

Sedangkan dari sejumlah figur antagonis, hanya sosok Ruby Lane yang mampu membuat saya bergidik, dengan suara berupa senandung khas darinya saat akan beraksi membunuh para korbannya.

Deena yang “terperangkap” dalam tubuh Sarah Fier di tahun 1666, menambah kejanggalan saat dirinya sebagai Sarah berinteraksi dengan sejumlah figur yang muncul, seperti adiknya Josh sebagai Henry, Samantha sebagai Hannah, Kate sebagai Lizzy, Simon sebagai Isaac, dan daftar pun terus berlanjut.

Sulit untuk dicerna, bahwa penceritaan tentang kutukan Sarah Fier yang menjadi misteri seantero Shadyside, bagaikan sebuah kebangkitan ulang atau penjelmaan atas apa yang terjadi di tahun 1994 melalui format yang berbeda. Akibatnya, hilanglah kecerdasan narasi yang dibangun sejak awal dalam tiga film yang dikisahkan berturut-turut.

Bagaimanapun juga, atmosfir mencekam ala horor slasher dan thriller suspens cukup kuat dalam tiga film tersebut, termasuk selingan humor segar, adegan pembunuhan sadis, karakterisasi yang menarik meski terkadang terasa canggung tak kepalang, beberapa lagu ikonik, serta tak lupa hadirnya budaya populer era 90’an.

Film The Fear Street Trilogy memang menghibur sebagai horor berbasis novel populer, akan tetapi tidaklah superior dan mengesankan seperti dugaan semula.

Score: 2.5 / 4 stars

Comments