Vigilante, Sosok ‘The Real Superhero’

Gran Torino (2008), courtesy of Warner Bros Pictures

Amati, intai, sasar, tembak! Whattt?? Memangnya sniper?? No!! Pernahkah selintas membayangkan pada imajinasi anda … anda sedang menyaksikan peristiwa kriminal jalanan dan anda merasa ‘gatal’ ingin menumpas para kriminal tersebut dengan senjata? Kebanyakan nonton film? Mungkin saja, namun film juga lah yang berbicara tatkala ketidakadilan terasa dan posisi hukum tidak berada di tempat.

Kita tentu pernah mendengar, menonton atau membaca berita yang belum lama tersiar tentang seorang ‘sniper’ yang  adalah warga Bekasi, menembak salah satu anggota geng motor hingga tewas. Pelaku yang usianya masih muda yakni 20 tahun, menembak korban dengan senapan angin miliknya, serta tidak sengaja menembak seorang warga lainnya. Kasus tersebut tentu menuai pro-kontra dari para komentator di berbagai media online dan media sosial. Pemuda tersebut mungkin bagi sebagian orang bisa disebut ‘pahlawan’ karena telah memberi ‘pelajaran’ bagi para kriminal. 

Contoh lain adalah berbagai kasus pembegalan motor di berbagai penjuru tanah air. Lalu bagaimana tindakan ototritas hukum dalam mencegah dan bertindak? Apakah sudah pas, terlebih jika korban hingga tak bernyawa? Perpaduan kemarahan, kebencian, frustasi, waspada serta paranoid tentunya secara alami ada dalam diri kita masing-masing, sebagai manusia biasa. Pernahkah anda membayangkan sosok vigilante atau ‘pahlawan’ yang langsung menyikat habis para kriminal? Lupakan sosok Dolph Lundgren, Thomas Jane atau Ray Stevenson sebagai superhero The Punisher … apalagi pesta kostum ala BatmanDaredevil, bahkan Darkman sekalian. 

Lupakan pula sosok polisi ‘super’ layaknya di film Dirty HarryLethal WeaponDie Hard atau atau mantan agen rahasia di film Taken. Serta lupakan fantasi futuristik ala Mad Max atau V for Vendetta. Yang dimaksud adalah sosok vigilante yang ‘mendekati nyata’, artinya yang nekat main hakim sendiri, meski melanggar hukum sekalian. Sois the justice blind? But it can see in the dark … salah satu quote terkenal di film seri Dark Justice yang terkenal di era 90an itu.

Kembali ke topik. Sosok vigilante yang muncul sejak abad pertengahan, ditandai dengan berbagai peristiwa balas dendam atas penindasan akan suatu kekuasaan yang bersifat tirani. Hal yang ditekankan di artikel ini, yakni sosok vigilante sebagai manusia biasa dengan segala kekuatan dan kekuasaan terbatas, dan tidak menonjolkan aksi yang berlebihan. Sosok vigilante muncul ketika hukum ‘tidak berfungsi maksimal’ dalam memerangi kriminal. Vigilante menjalankan aksinya sendirian dan dianggap sosok ‘pahlawan’, namun sosok tersebut cenderung anti-hero. 

Disebut pahlawan, karena sangat membantu warga sipil agar hidup lebih damai, ketika para penjahat masih merajalela atau proses hukum tidak berjalan semestinya. Disebut anti-hero, karena menyembunyikan identitas yang menjadi ‘alter-ego’nya, serta enggan dalam bekerjasama dengan otoritas atau mengikuti prosedur hukum. Dari sisi psikologis, mungkin sosok tersebut memiliki kecanduan dengan langsung membasmi para penjahat, bukan menyerahkannya kepada pihak otoritas. Banyak berbagai contoh film yang membahas vigilante yang berlatar belakang warga sipil dengan profesi ‘normal’ yang ‘mungkin mendekati kenyataan’. Motif utama biasanya berawal dari dendam kesumat.

Taxi Driver (1976), courtesy of Columbia Pictures

Tipe vigilante jika ditinjau dari target buruan dari tokoh protagonis, saya bagi menjadi dua. Yang pertama fokus terhadap seseorang atau pihak yang pernah menghancurkan hidupnya. Berbagai film yang menceritakan hal tersebut biasanya mengeksplorasi metode balas dendam dengan berbagai cara dan perkembangan karakter protagonis yang bertransformasi dalam mengeksekusi serta menyelesaikan sesuatu yang ia mulai.

Salah satu contoh terbaik adalah Taxi Driver (1976) garapan Martin Scorsese yang dibintangi Robert DeNiro, menceritakan seorang mantan prajurit Amerika di Perang Vietnam yang memiliki sisi psikologis yang rumit, insomnia dan bekerja sebagai supir taksi di malam hari. Ia mulai menemukan dirinya kembali menjadi seorang ‘prajurit perang’, setelah mendapat penolakan seorang wanita yang ia dekati, yang bekerja untuk seorang senator. Ia pun melihat ketidakberesan seorang pelacur berumur 13 tahun yang tidak semestinya menjalani profesi tersebut. Ia lalu nekat untuk membunuh senator serta membasmi para pengelola di satu tempat lokalisasi. 

Gaya penuturan film tadi boleh dibilang mirip dengan film Law Abiding Citizen (2009), tentang seorang warga sipil yang membalas dendam terhadap pembunuh keluarganya dan jaksanya serta beberapa orang yang terlibat dalam kasus tersebut. Dari dua contoh film tadi, ditinjau dari ceritanya, kedua tokoh protagonis tersebut memiliki latar belakang berbeda, jika film pertama adalah mantan prajurit yang mungkin sudah tak asing dengan senjata, maka film kedua adalah warga sipil yang tidak memiliki pengalaman militer. 

Contoh lain dari film pertama yakni serangkaian seri Billy Jack di akhir 60an hingga 70an, Vigilante Force (1976), Man on Fire (2004), Gran Torino (2008), Harry Brown (2009) hingga The Equalizer (2014). Contoh lain dari film kedua adalah A Time to Kill (1996), Eye For an Eye (1996), Hard Candy (2005), A History of Violence (2005), Four Brothers (2005) hingga The Brave One (2007). Genre horor slasher umumnya menghadirkan tokoh antagonis yang balas dendam dengan melampiaskan berbagai pembunuhan terhadap orang lain.

Namun bagaimana jika kondisinya dibalik? Film I Spit on Your Grave (1978) memberi contoh bagaimana seorang wanita yang menjadi korban dari segerombolan penjahat, berubah menjadi seseorang yang menakutkan dan bertindak sama-sama brutal dan penuh kekerasan terhadap para pelaku di masa lalunya.

Tindak lanjut yang mulai meluas dan memburu para target lainnya atas nama ketidakadilan terhadap orang lain, adalah tipe kedua dari seorang vigilante dalam film. Dari beberapa vigilante yang disebutkan tadi, haram rasanya jika tidak merujuk pada sosok Paul Kersey. Tokoh yang diperankan oleh mendiang Charles Bronson dalam film mainstream kontroversial yang sarat akan kekerasan eksplisit, Death Wish (1974), adalah seorang arsitek yang melaksanakan misi balas dendam kepada para begundal yang telah membunuh istrinya dan memperkosa anak perempuannya. Dengan hanya bermodalkan sebuah pistol, Kersey tidak hanya memburu pelaku yang menghancurkan keluarganya, malah bertindak terlalu jauh, dengan membunuh siapapun pelaku kejahatan, apapun itu, termasuk seseorang yang berusaha menodongnya. 

Film yang dibuat hingga lima seri tersebut, menceritakan perjalanan Kersey, sebagai seorang arsitek sekaligus vigilante yang mengalami kecanduan dalam membasmi kriminal jalanan. Film Death Wish diadaptasi dari novel dengan judul yang sama di tahun 1972 karya Brian Garfield, serta dibuat hingga lima seri. Film Death Wish II (1979), mengambil beberapa elemen dari sekuel novelnya Brian Garfield berjudul Death Sentence (1975). 
Adapun sutradara James Wan juga pernah menggarap dan sedikit mengadaptasi dari sebuah novel yang disebutkan terakhir, melalui sebuah film dengan judul yang sama di tahun 2007. Film yang mengisahkan Nick Hume (Kevin Bacon), berubah menjadi seorang vigilante yang penuh dendam kesumat, setelah anaknya tewas dibunuh oleh salah satu anggota gangster jalanan. 

Death Wish (1974), courtesy of Paramount Pictures

Mungkin tidak banyak yang tahu setelah ada film remake yang dibintangi Dwayne Johnson di tahun 2004. Adalah Walking Tall (1973), sebuah film semi-biografi yang diangkat dari kisah nyata tentang mantan pegulat profesional, Buford Pusser, yang harus berhadapan dengan ketimpangan hukum dan korupsi yang menguasai kampung halamannya. Pusser akhirnya menjadi seorang sheriff dan terus melawan kriminal, yang menjadi contoh figur penegak hukum yang bersih.

Contoh lain adalah film The Boondock Saints (1999), tentang bagaimana sepak terjang duo turunan Irlandia, yang setelah membela diri dengan menewaskan seorang anggota Mafia Rusiakemudian mendapat ‘pencerahan’ dan mengalami transformasi karakter, dengan membersihkan para kriminal di kota Boston. Ada sesuatu yang unik dan mungkin bisa diargumentasikan apakah termasuk film vigilante atau bukan, tentang perjalanan seseorang yang berbuat apapun terhadap siapapun yang mengusiknya. 

Film Falling Down (1993), sebuah drama thriller unik garapan Joel Schumacker yang dibintangi Michael Douglas, berkisah tentang seseorang yang tidak bekerja dalam keadaan depresi. Dalam perjalanan jalan kaki menuju rumah mantan istrinya untuk menghadiri ulang tahun putrinya, ia bertualang mengalami serangkaian peristiwa yang tidak menyenangkan. 
Film yang menggambarkan kondisi frustasi yang mudah meledak dan siap menghancurkan seseorang yang dianggap menyebalkan. Selain beberapa film tadi, juga ada beberapa judul film kelas-B tentang vigilante, seperti The Exterminator (1980), Ms.45 (1981), Vigilante (1983), Savage Streets (1984) atau Avenging Angel (1985).

Kriminalisasi semakin merajalela, masyarakat semakin sengsara, saatnya vigilante berbicara! Selalu ada kontroversi dan konsekuensi dari tindakan kriminal apapun yang dilakukan. Imajinasi yang diekspresikan ke dalam bentuk film, merupakan salah satu solusi yang ditawarkan melalui kekerasan dibalas dengan kekerasan, hak asasi manusia pun turut berbicara.

Bagaimanapun juga sebuah film menyampaikan pesan dan nilai akan perilaku dan moralitas dalam tatanan sosial, lalu bagaimana pula posisi dan peran hukum yang juga harus kita hormati? Sampai sejauh mana peran otoritas dalam menindak para pelaku kriminal? Kita semua hanya bisa berharap adanya keadilan yang tidak timpang.


Popular Posts