Head to head : Murder on the Orient Express 1974 vs 2017


Kiri : Hercule Poirot versi 1974 yang diperankan oleh Albert Finney. 
Kanan : versi 2017 yang diperankanoleh Kenneth Branagh. 
(EMI Films, 20th Century Fox)

Film dan kereta api!
Paduan dua hal yang paling mengasyikan dalam hidup saya untuk bisa menikmatinya.

Maksudnya, film bahkan sepanjang cerita film dengan adegan di dalam kereta api adalah sesuatu yang paling indah. Bagaimana saya seakan-akan hadir di dalam kereta tersebut, menikmati sebuah perjalanan dan transit, dari satu tempat ke tempat lainnya … WOW, that’s awesome, man!

Kalo mau jujur, gak banyak film-film yang beradegan di dalam kereta api hampir sepanjang cerita, sebut saja : film Perang Dunia-II di Von Ryan’s Express (1965), film western di Breakheart Pass (1975), film action comedy di Silver Streak (1976), film horor slasher di Terror Train (1980) atau film action thriller di Runaway Train (1985) hingga animasi The Polar Express (2004).

Namun diantara itu semua, film klasik adaptasi dari novelnya Agatha Christie yang legendaris dengan judul yang sama, Murder on the Orient Express (1974) begitu memuaskan saya. Dari sekian banyak petualangan detektif Hercule Poirot yang diterbitkan berupa novel, film itulah merupakan salah satu adaptasi terbaik yang pernah ada. Film yang berhasil, baik secara komersial maupun kritik.

Beberapa bulan sebelumnya, saya cukup terkejut begitu melihat trailer dari film yang di-remake itu di tahun 2017. Jajaran bintang besar serta sutradara berkualitas, membuat saya berantusias untuk menyambutnya. Saya pun menonton filmnya, dan hasilnya … nah, inilah yang akan saya bandingkan dua film yang bersumber dari novel yang sama.

Sekitar akhir 90’an, saya pernah punya dan baca –cukup baca sekali- novel terjemahannya. Cukup berat dan bikin ngantuk bagi seorang yang lebih menyukai baca komik dibandingkan novel. By the way, novel Trio Detektif lebih seru lho. So, rentang waktu sekitar 10 tahun membuat saya tidak ingat ceritanya, pada saat nonton film versi tahun ’74 itu.

Film versi ‘74 adalah versi adaptasi yang lebih setia, istilah kerennya, a faithful adaptationSeperti yang dilansir Wikipedia, hanya ada perubahan minor di beberapa nama karakter yang dibedakan antara novel dengan film. Film itu disutradarai oleh Sidney Lumet, seorang sineas jempolan yang telah menelurkan beberapa film nominasi Oscar, meski akhirnya ia dianugerahi Honorary Award di ajang yang sama atas prestasinya.

Versi ‘74 juga dibintangi oleh para artis legendaris dari Albert Finney, Lauren Bacall, Martin Balsam, Ingrid Bergman, Jacqueline Bisset, Sean Connery, Vanessa Redgrave hingga Anthony Perkins. Sedangkan versi NOW –maksudnya yang rilis di tahun 2017- dimahkodai sekaligus dibintangi oleh sineas Kenneth Branagh. Turut dimeriahkan oleh Michelle Pfeiffer, Johnny Depp, Judi Dench, Penélope Cruz, Willem Dafoe hingga Daisy Ridley. Oh ya, ternyata sineas Ridley Scott pun turut berperan jadi produser.

impawards.com

Baiklah, hmmm … mulai dari mana ya saya review-nya. Intinya, jika ditinjau dari storytelling, kedua versi film tersebut sama dengan novelnya : Hercule Poirot naik kereta Orient Express dari Istanbul menuju London, berbagai karakter penumpang di kereta umumnya sama, di suatu tempat kereta terpaksa berhenti karena jalurnya terhalang tumpukan salju, Ratchett tewas dibunuh di dalam kereta, pembunuhan Ratchett terkait dengan penculikan dan pembunuhan Daisy Amstrong dan akhirnya Poirot mengungkap siapa pembunuh Ratchett.

Versi ’74 menuturkan alur cerita yang sama dengan novelnya, pun demikian dengan versi 2017, namun mengambil sudut pandang yang berbeda. Beberapa perbedaan signifikan ada pada nama karakter penumpang kereta, adegan aksi dan adanya sentuhan twist yang cukup mengejutkan, meski kurang berkesan.

Versi 2017-nya di awal film, sebelum Poirot berada di kereta Orion Express, ia mengeksekusi kasus hilangnya benda bersejarah di sebuah Gereja di Yerusalem. Menurut saya, hal tersebut tidak perlu dilakukan, mengingat terbuangnya porsi yang seharusnya diberikan untuk eksploitasi kepada beberapa karakter penumpang di kereta Orient Express.

Speak about character and acting … nah! Kedua hal itulah yang menjadi pembeda kualitas dari kedua film secara keseluruhan. Versi 2017 tampaknya terlalu fokus pada eksploitasi dan aksi dari Poirot itu sendiri, hingga karakter lainnya pun menjadi tidak maksimal. Lagian, adegan interogasi Poirot dengan semua penumpang di kereta digambarkan tidak secara utuh dan tuntas satu-persatu, seperti halnya di versi ’74 atau novelnya.

Seingat saya, dari sampul novel-novelnya Agatha Christie, Hercule Poirot digambarkan memiliki rambut hitam kelimis dengan kumis tebal dengan bentuknya yang khas (di kedua ujungnya, agak melengkung keatas), seperti yang diperlihatkan di versi ’74. Sedangkan di versi 2017 memiliki kumis yang teramat panjang dengan campuran uban (rambut putih).

Karakterisasi Poirot di versi ’74 menurut saya lebih tepat, terutama dari mimik dan gaya, serta aksen Perancis-nya yang kental, mengingat ia adalah orang Belgia. Versi 2017 terlalu serius untuk menjadi seorang Poirot yang memaksakan kewibawaannya. Malah saya lebih bersimpati pada versi ’74, meski awalnya terlihat ‘lucu atau cupu’, namun cerdas dan elegan.

Murder on the Orient Epress (1974), EMI Films

Selain karakter Poirot, karakter Mrs. Hubbard yang diperankan Lauren Bacall di versi ’74 jelas lebih berkarisma dibandingkan Michelle Pfeiffer di versi 2017 … ada apa gerangan, hingga Pfeiffer kurang bisa menggugah empati saya? Paling hanya di akhir cerita saja, itupun karena dukungan dari background musik dan lagu di ending credits.

Bahkan seorang Judi Dench sebagai Princess Dragomiroff pun tidak bisa berbuat banyak di versi 2017-nya, kalah mentereng-nya dengan akting dan penampilan Wendy Hiller di versi ’74, dari penampilan fisiknya terlihat agak ‘creepy’ dengan gaya bicara layaknya seorang bangsawan yang telah lanjut usia. Apalagi asistennya, karakter Hildegarde Schmidt versi ‘74, menunjukkan sebagai seorang wanita Jerman yang angkuh dan ketus, jauh sekali dibandingkan dengan versi 2017. 

Justru yang menonjol di versi 2017 adalah akting Josh Gad sebagai Hector MacQueen pada saat ditekan dan diinterogasi oleh Poirot, didramatisir dengan baik. Meski Anthony Perkins di versi ’74 juga berakting sangat baik sekaligus misterius ... tampaknya memiliki aura yang sama di film Psycho (1960).

As usually, penampilan Johnny Depp sebagai Ratchett di versi 2017 sudah tak diragukan lagi aktingnya. Kalo boleh dibilang, perbandingan dengan karakter Ratchett di versi ’74 bernilai sama. Selain itu, sadarkah anda bahwa penampilan Willem Dafoe sebagai Profesor Gerhard Hardman sepertinya tak lebih dari pelengkap saja? Di versi 2017 itu, aktingnya tidak berkesan apa-apa, meski role -nya memang tidak banyak.  

Yang paling dahsyat tentu saja Ingrid Bergman sebagai Greta Ohlsson di versi ’74, bermain sangat brilian, sebagai seseorang yang sangat religius dan jiwanya seperti campuran antara orang paranoid atau kerasukan sesuatu. Wajar jika ia diganjar Oscar kala itu. Sesuatu yang kontras ketika saya menikmati aktingnya di film Casablanca (1942). Bandingkan dengan Penélope Cruz yang di versi 2017 yang ‘tenggelam entah kemana’ membuat saya ingin skip saja.

Sedikit perbedaan cerita ada pada bumbu adegan aksi, yakni tembakan pistol yang mengarah kepada Poirot. Dengan adanya dialog setelah adegan tersebut, malah berkesan seakan-akan Poirot dianggap tidak mampu memecahkan kasus pembunuhan Ratchett. Demikian dengan penggunaan animasi CGI yang lebay, ketika salju longsor dengan jarak sangat dekat. Logikanya salju tersebut bisa menghantam kereta, bukan menghalangi jalur kereta tepat di depannya … what a disaster movie!

Murder on the Orient Epress (2017), 20th Century Fox

Untuk urusan visual, jelas versi 2017 lebih unggul berkat kemajuan teknologi dan CGI, meski manipulatif. Contohnya, adegan kapal laut melintasi keindahan kota Istanbul atau kereta Orient Express yang sedang melaju meninggalkan Stasiun Istanbul dan melintasi beberapa background pemandangan indah. Jika versi ’74 memang seadanya meski tetap menarik, maka versi 2017 penuh dengan keindahan warna, terutama pada saat sunset atau sunrise … ya boleh dibilang seperti saya menonton kembali film The Polar Express.

Layaknya film jaman NOW, sebuah aransemen musik selalu dominan hampir di sepanjang film, termasuk dialog. Harus saya akui, meski dari aktingnya yang kurang, versi 2017 mampu menggugah emosi saya melalui musik yang mengiringi beberapa adegan memilukan. Puncaknya, ketika lagu Never Forget yang dinyanyikan oleh Michelle Pfeiffer di ending credits, menyambungkan alunan denting piano di akhir cerita. Suara merdunya mengingatkan saya akan penampilannya di film The Fabulous Baker Boys (1989).

Secara keseluruhan, versi ’74 lebih unggul dikarenakan esensi yang dikandung hampir sama dengan novelnya. Versi 2017 malah terkesan seperti mengadaptasi ke dalam bentuk graphic novel atau lebih buruknya … komik. Bagi generasi millenial, apalagi yang belum pernah baca novelnya, tentu lebih menyukai versi 2017, karena lebih fresh dan ada sedikit modifikasi, meski dikhawatirkan malah akan menurunkan nilai dari karakter Hercule Poirot itu sendiri.

Bagi yang penasaran ingin nonton versi ’74-nya, siap-siap ngantuk. Banyak disuguhi oleh dialog yang tampaknya membosankan, serta tidak adanya adegan aksi laga. Tapi jangan salah, justru dengan gaya yang lebih natural malah lebih baik apa adanya, dengan segala kekurangan efek canggih di kala itu. Aura thriller dan suspens-nya tetap terjaga. 

However, this is just a matter of my objective opinion. Just enjoy the movie, don’t take it too deep …

Genre film : Drama, Misteri/Suspens, Thriller


Versi 1974 | Score: 4 / 4 stars Pemain: Albert Finney, Lauren Bacall, Martin Balsam, Ingrid Bergman, Jacquelin Bisset, Jean-Pierre Cassel, Sean Connery, John Gielgud, Wendy Hiller, Anthony Perkins, Vanessa Redgrave, Rachel Roberts, Richard Widmark, Michael York   | Sutradara: Sidney Lumet  |  Produser: John Brabourne, Richard B. Goodwin | Skenario: Paul Dehn | Musik: Richard Rodney Bennett | Sinematografi: Geoffrey Unsworth  | Distributor: EMI Films | Negara: Inggris | Durasi: 131 Menit
  

Versi 2017 | Score: 2.5 / 4 stars Pemain: Kenneth Brannagh, Penélope Cruz, Willem Dafoe, Judi Dench, Johnny Depp, Josh Gad, Derek Jacobi, Leslie Odom Jr, Michelle Pfeiffer, Daisy Ridley | Sutradara: Kenneth Brannagh  |  Produser: Ridley Scott, Mark Gordon, Simon Kinberg, Kenneth Brannagh, Judy Hofflund, Michael Schaffer  | Skenario: Michael Green | Musik: Patrick Doyle | Sinematografi: Harris Zambarloukos  | Distributor: 20th Century Fox | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 114 Menit


Baca juga : 12 Angry Men (1957) : Mereka Marah Karena Apa? | Highlander (1986) : Siapa yang Ingin Hidup Selamanya? | The Washington Post vs Nixon dalam Empat Film

Popular Posts