Porky’s (1981) : Komedi Vulgar Remaja dan Balas Dendam

Courtesy of 20th Century Fox, 1981

Dari sekian banyak film komedi tentang seks di kalangan remaja, film Porky’s merupakan salah satu yang boleh dikatakan paling : kocak, konyol dan vulgar, yang diselingi oleh sedikit kekerasan secara implisit. Layaknya film remaja yang sedang puber, aktivitas seks merupakan gerbang menuju kedewasaan, adalah sesuatu yang biasa di dunia barat sana.

Mendengar kata ‘Porky’ khususnya bagi anak jaman 80’an atau 90’an tentunya diingatkan oleh nama tokoh kartun berbentuk babi, Porky Pig. Hmmm … judul yang tampaknya berafiliasi dengan film animasi tersebut, sebenarnya ditujukkan kepada nama sebuah bar striptis. Hal itu diperlihatkan pada saat opening credits, ketika sorotan kamera tertuju pada lettering sign sebuah bar bernama Porky’s.

Film Porky’s adalah film yang fokus pada problematika pubertas, seks, pesta, solidaritas, kenakalan remaja, serta lingkungan sosial yang nyata. Film tersebut mencetak box office di Amerika Utara (Kanada dan Amerika Serikat), dan terkenal seperti film sejenis National Lampoon’s Animal House, Fast Times at Ridgemont High, American Pie, Superbad, National Lampoon’s Van Wilder, dan lain sebagainya.  

Layaknya film komedi bertemakan seks remaja, film ini secara garis besar dibagi menjadi dua aspek utama : Masa pubertas remaja anak sekolah menengah keatas di Florida dan perseteruan mereka dengan geng di sebuah bar striptis bernama Porky’s. Sudah tidak asing lagi bagi dunia barat, pubertas seorang remaja untuk bersosialisasi (atau bahasa keren-nya, hangout), berpacaran dan melakukan seks. Semua itu adalah proses pematangan menuju kedewasaan seseorang.

Inti ceritanya sederhana : Edward “Pee Wee” Morris, seorang remaja yang belum pernah melakukan seks teman lawan jenisnya. Ia dan geng satu sekolahnya sebentar lagi akan merayakan kelulusan dari sekolah, dan tentunya mereka akan menjalani kehidupan masing-masing. Di momen itulah Pee Wee ngotot harus melewati masa remajanya dengan melakukan seks.

Suatu ketika Pee Wee dan rekan satu geng-nya nekad mendatangi Porky’s, sebuah bar yang sebenarnya belum layak didatangi oleh remaja seperti mereka. Mereka menghampiri Porky Wallace, sang pemilik bar, berunding agar mereka bisa menyewa salah satu penari erotis Porky’s. Ternyata Porky menipu mereka setelah mendapatkan uang terlebih dahulu. Pee Wee dan teman-temannya malah dicurangi dan dikerjai oleh Porky dan anak buahnya. Parahnya lagi, Sheriff Wallace yang bermarkas tidak jauh dari Porky’s, ikut serta mengerjainya.

Mickey, salah satu teman Pee Wee, merasa kesal dan kembali lagi ke Porky’s, setelah sebelumnya diperingatkan oleh kakaknya, Ted, seorang polisi lokal. Pada saat pesta kelulusan sekolah dilaksanakan, tanpa disangka Mickey tiba-tiba datang dengan kondisi babak belur. Ternyata ia habis dianiyaya oleh Porky dan geng-nya. Melihat kondisi tersebut, Pee Wee dan teman-temannya ingin balas dendam kepada Porky. Ted dan guru olahraga, Roy yang kebetulan berada disana pun ikut mendukung dan akan memberi ‘pelajaran’ kepada Porky.

Dan rencana merekapun akhirnya dilaksanakan, bagaimana hasilnya? Yup, banyak kejutan dan kemeriahan di akhir cerita … Seru? Jelas!

Selain plot cerita diatas, juga ada beberapa subplot cerita seputar Pee Wee dan teman-temannya di lingkungan sekolah. Seperti halnya film remaja komedi seks lainnya, diceritakan bagaimana usaha Pee Wee untuk melakukan seks dengan Wendy. Selain itu, guru olahraga Roy berusaha mendekati rekannya, Lynn. Adapun guru senior, Ms. Beulah yang begitu disiplin dan sepertinya anti kenakalan. Ketiga subplot tadi merupakan bagian dari kesatuan cerita keseluruhan yang menarik perhatian.

impawards.com

Sutradara Bob Clark, piawai dalam mengarahkan beberapa adegan super kocak (baca: super kocak!) yang dijamin bakal mengocok perut audiens. Beberapa adegan tersebut antara lain :

Bagaimana Pee Wee dan teman-temannya dikerjai oleh dua orang teman mereka sendiri (yang lebih berpengalaman, tentunya), pada saat menyewa seorang wanita panggilan. Pada saat mereka menunggu giliran untuk masuk kamar, tiba-tiba ada seorang maniak yang sedang membuat kekacauan di dlaam kamar, dan sepertinya mambantai wanita panggilan dan kedua temannya di dalam kamar … spontan, mereka yang sedang menunggu di dalam ruangan, dalam keadaan telanjang, lari pontang-panting keluar rumah.

Ada adegan kejutan, pada saat Roy ketika berhasil mendekati Lynn dan akhirnya melakukan hubungan seks di sebuah gudang di lapangan olahraga, pada saat kegiatan olahraga berlangsung, kontan mendapat tawa kocak seisi ruangan. Rekan Roy, Fred, malah yang paling kencang tertawanya, saking gak tahan mendengarnya.

Pee Wee dan kedua temannya mengintip para siswi sedang mandi. Edannya, Tommy melakukan hal yang ekstrim di lubang tersebut dan ketahuan oleh Ms. Beulah. Nah, adegan kocak dan ‘ngilu’ pun kahirnya terjadi.

Namun dari semua adegan yang ada, mungkin momen terkocak sekaligus tercerdas adalah pengaduan Ms. Beulah akan hal tersebut kepada kepala sekolah, Mr. Carter. Di satu ruangan tersebut, juga nimbrung guru olahraga Fred dan Roy. Dialog cerdas, kocak dan natural yang dibangun oleh Fred, Mr. Carter dan Ms. Beulah sangatlah mengena dan memang Fred-lah yang ‘memanasi’ kondisi, karena pengaduan tersebut berkesan konyol dan tidak ada bukti kuat … sungguh salah satu adegan terkocak yang membuat perut keram dan air mata berjatuhan!

Boleh dikatakan, Porky’s adalah sebuah film hiburan, tanpa mengandung sebuah nilai filosofi dari kenakalan dan pubertas remaja itu sendiri. Motivasi balas dendam terhadap Porky adalah sesuatu hiburan semata untuk menaikan adrenalin keseruan sebuah cerita. Malah dapat saya katakan agak absurd ketika penggambaran karakter Porky yang ‘kejam’ dan motif balas dendam mereka terhadapnya adalah tindakan yang ‘melanggar hukum/main hakim sendiri’ apalagi didukung oleh Ted yang merupakan seorang polisi.

Tidak ada yang spesial dari unsur-unsur lainnya seperti perkembangan atau kekuatan karakter yang signifikan dan ikatan emosi, menjadikan film ini tidak lebih dari sebuah komedi yang menghibur. Namun di sisi lain, Bob Clark dinilai berhasil membuat sebuah film komedi remaja, yang sukses mengocok perut saya, setelah sebelumnya menyutradarai film horor Black Christmas (1974) atau film Sherlock Holmes yang serius, Murder by Decree (1979).

Bagi anda penyuka genre sejenis, film klasik ini quite worth to be watched dari sisi komedi vulgar, nothing more. Film ini termasuk laris di masanya, hingga dibuatkan dua sekuel yang belum pernah saya tonton … antara ragu atau belum niat.

Score : 3 / 4 stars

Porky’s | 1981 | Drama Remaja, Komedi, Petualangan | Pemain: Dan Monahan, Mark Herrier, Wyatt Knight, Roger Wilson, Cyril O’ Relly, Tony Ganios, Kaki Hunter, Kim Cattrall, Nancy Parsons  | Sutradara: Bob Clark | Produser: Don Carmody, Bob Clark | Penulis: Bob Clark  | Musik: Paul Zaza, Carl Zittrer | Sinematografi: Reginald H. Morris | Distributor: 20th Century Fox | Negara: Kanada, Amerika Serikat | Durasi: 98 Menit 

Popular Posts