"Airport" Series : Pelopor Film Modern tentang Musibah Pesawat


Airport (1970), courtesy of Universal Pictures

Indonesia tengah berduka dalam musibah jatuhnya sebuah pesawat Boeing 737 milik Lion Air JT 610, Senin 29 Oktober 2018 di perairan lepas pantai Karawang, Jawa Barat. Peristiwa tersebut menambah daftar kecelakaan pesawat terbang komersil di negeri ini, sehingga masuk dalam salah satu negara yang paling banyak mengalami kecelakaan pesawat terbang.

Banyak faktor yang diduga menyebabkan kecelakaan fatal sebuah pesawat terbang, bisa dari cuaca, human error, teknis dan prosedural serta mungkin saja faktor eksternal seperti terorisme atau sabosate. Hingga saat ini, banyak sekali film yang mengisahkan tentang kecelakaan pesawat terbang (khususnya komersil), dengan berbagai genre dan tema yang bervarian.

Dari sekian banyak film tersebut, saya rasa franchise film Airport bisa dikatakan sebagai salah satu airplane disaster movies terbaik. Premisnya tentang kecelakaan atau musibah yang menimpa pesawat atau bandara, yang disebabkan oleh faktor alam maupun manusia. Film-film tersebut mungkin saja menjadi pelopor film-film modern sejenis, yang mengeksploitasi aktivitas di bandara maupun di dalam pesawat terbang.

Franchise tersebut terdiri dari empat film, yakni Airport (1970), Airport 1975 (1974), Airport ’77 (1977) dan The Concorde …Airport ’79 (1979). Cerita dari masing-masing film tersebut berdiri sendiri, dengan berbagai tema unik yang berkenaan dengan bandara dan pesawat terbang. Yang menarik dari keempat film tersebut yakni karakterisasi, drama, intrik dan aksi, serta penyajiannya yang lebih realistis dibandingkan film dengan genre sejenis, meski fiktif.

Keempat film ini dibintangi oleh aktor-aktris terkenal (ensemble cast) sehingga ketiga film pertamanya mendapatkan nominasi di ajang bergengsi, bahkan film pertamanya berhasil mendapatkan piala. Film Airport (1970) menginspirasikan beberapa film sejenis baik yang fiktif maupun adaptasi dari peristiwa/kisah nyata, mulai dari action di Passenger 57 (1992) dan Executive Decision (1996), drama di Flightplan (2005), United 95 dan Flight 93 (2006), Flight (2012) dan Sully (2016), hingga parodi di Airplane! (1980).


Airport (1970) 

Courtesy of Universal Pictures, 1970

Film ini fokus menceritakan rangkaian peristiwa di sebuah bandara fiktif bernama Lincoln International Airport, dekat kota Chicago. Seorang manajer bandara bersikeras agar bandara tersebut beroperasional selama salju turun, sementara ada seseorang yang berniat untuk meledakkan sebauh bom bunuh diri di dalam pesawat.

Film dengan setting hampir 90% berada di area bandara tersebut, diperlihatkan dengan detail aktivitas dan berbagai gejolak hingga problema yang mereka hadapi, saling berkolaborasi terkadang berkonflik, berdasarkan argumen dan keahliannya masing-masing. Selain itu, kompleksitas karakterisasi dan plot cerita terpapar secara dramatis dan solid. Dibintangi oleh Burt Lancaster, Dean Martin, Jacqueline Bisset, Jean Seberg hingga George Kennedy.

Hiruk-pikuk kedinamisan aktivitas di bandara, berbagai keputusan krusial dalam menghadapi persoalan, intensitas dan bencana, problema kehidupan masing-masing karakter, semuanya dipadukan dengan baik dalam satu jalan cerita yang menarik. Lewat film ini, kita bisa mengetahui suasana koordinasi yang terjalin antara staf bandara dan penerbangan, kru opersional dan perbaikan, kru penerbangan serta FAA (Federal Aviation Administration) atau Otoritas Penerbangan Sipil. Film Airport berhasil menyabet Oscar dan Golden Globe Awards lewat kategori Best Supporting Actress untuk Helen Hayes, serta berhasil mendapatkan keuntungan hampir 10 kali lipat dari biaya pembuatannya.

Score : 4 / 4 stars  


Airport 1975 (1974)

Courtesy of Universal Pictures, 1974

Jika film pertamanya fokus di seputar bandara, maka film ini fokus pada penerbangan salah satu pesawat Boeing 747 yang dalam keadaan krisis, tertabrak pesawat kecil yang menghantam kokpit, mengakibatkan pesawat tersebut tidak bisa dikemudikan oleh siapapun. Dibintangi oleh Charlton Heston, Karen Black, George Kennedy hingga Linda Blair, film ini tidak bisa mengulangi kesuksesan pendahulunya secara kualitas, meski pendapatannya lumayan laris dan menempati peringkat ke-3 setelah film disaster lainnya yakni The Towering Inferno dan Earthquake.

Diantara film-film disaster yang banyak diproduksi di era 70’an tersebut, film Airport 1975 termasuk populer dengan mengeksploitasi bagaimana caranya bertahan dan mengakali di dalam pesawat agar bisa mendarat dengan selamat, sementara tidak ada yang bisa mengendalikan pesawat itu sendiri. Ketegangan demi ketegangan, beberapa kejutan juga terjadi dalam rangkaian sekuen yang disajikan dengan cukup epik dan berhasil memacu adrenalin.

Karakterisasi pramugari dan beberapa penumpang lainnya cukup impresif dalam memerankan masing-masing dialog dan aksi mereka. I guess, penampilan Linda Blair adalah yang terbaik dalam film ini setelah The Exorcist (1973), sebagai seorang penumpang yang dirawat. Juga tak lupa karakter seorang Suster, seorang selebriti dan seorang alkoholik.

Score : 3 / 4 stars


Airport ‘77 (1977)

Courtesy of Universal Pictures, 1977

Seri ke-3 ini mengisahkan tentang sebuah pesawat Boeing 747 dengan banyak penumpang VIP, yang dibajak dan jatuh ke dalam laut di Segitiga Bermuda! Wow, premisnya memang nekat yah, apalagi melibatkan Segitiga Bermuda segala. Film ini tidak menawarkan hal yang baru, selain kecelakaan pesawat yang jatuh ke laut, namun badan pesawat tidak hancur atau terbelah, serta para penumpangnya berusaha untuk menyelamatkan diri.

Dibintangi oleh para aktor.aktris veteran seperti Jack Lemmon, Lee Grant, James Stewart, George Kennedy, M. Emmet Walsh hingga sang drakula, Christopher Lee, film ini masih laris di tangga box office, meskipun secara kritik kurang memuaskan, bahkan film ini dinominasikan dalam Academy Awards untuk kategori Best Art Direction dan Best Costume Design. Setelah perilisan filmnya hingga di awal 80’an, Universal Studio Tour mengoperasikan sebuah wahana “Airport ‘77” berupa Screen Test Theater.

Keunggulan film ini terletak pada berbagai efek dari banyak adegan ketika sebuah pesawat jatuh dan tenggelam di dalam laut, visualisasi dan atmosfir yang tercipta mampu menimbulkan ketegangan dan kepanikan ketika pesawat berada di dasar laut, karena rasa panik dan mengerikan juga hadir terhadap ketakutan akan kurangnya oksigen dan air yang masuk ke dalam pesawat.

Score : 2.5 / 4 stars


The Concorde …Airport ’79 (1979)

Courtesy of Universal Pictures, 1979

Sebagai film penutup dari semua seri Airport, film ini memanfaatkan pesawat fenomenal sekaligus kontroversial buatan Inggirs dan Perancis, yakni Concorde yang mengudara dari tahun 1976 hingga 2003. Mengisahkan tentang seorang penjual senjata ilegal yang bisnis kotornya diketahui oleh kekasihnya seorang jurnalis. Untuk menutupi kebocoran rahasianya, ia meluncurkan sebuah misil pada sebuah pesawat Concorde yang ditumpangi kekasihnya itu.

Berdasarkan premis yang semakin fiktif, film ini terbukti gagal di pasaran dan dihujani kritik. Film yang dibintangi oleh Alain Delon, Susan Blakely, Robert Wagner, Sylvia Kristel dan George Kennedy ini memang terkesan konyol dari ide dan eksekusi cerita yang dikembangkan dari seri-seri sebelumnya, sepertinya hanya menjual kemegahan dan kehebatan Concorde saja.

Namun berbagai setting latar pemandangan seperti pegunungan es atau berbagai aksi spektakuler di udara, cukup menghibur sebagai tontonan rutin biasa. Sepertinya tidak ada lagi yang perlu dikomentari lebhi lanjut di film ini.

Score : 2 / 4 stars

Popular Posts