Dead Silence (2007) : Horor Ventriloquisme Modern Rasa Klasik

Dunia Sinema Dead Silence Jamie dan Billy
Universal Pictures

Era 2000’an, umumnya selera audiens terhadap film horor berubah drastis, sejak dirilisnya film Saw (2004) melalui jalur mainstream, sehingga tema penyiksaan dan pembunuhan sadis atau disebut torture horror, kembali menjadi trend sejak era 70’an. Ditambah dengan kebanjiran perilisan remake atau reboot bahkan adaptasi dari film horor Asia, membuat saya begitu muak dan hampir tidak melirik film horor saat itu.

Sineas James Wan yang ironisnya melejit lewat Saw, untuk kali pertama bereksperimen terhadap old school horror dengan rasa klasik, yang bertemakan ventroloquisme supranatural, dengan melibatkan roh jahat atau iblis. Maka, melalui film Dead Silence, sebuah gebrakan darinya kembali membangkitkan tema serupa oleh beberapa sineas lain.

Wan sendiri kemudian melanjutkan trend saat itu, dengan menggarap beberapa film Insidious hingga menciptakan The Conjuring Universe yang populer itu. Karakter boneka seram Billy yang menjadi objek ventriloquisme di film Dead Silence, tentu saja memunculkan rasa nostalgia terhadap film horor klasik yang mirip dengan film Magic (1978) yang dibintangi oleh Anthony Hopkins. Meski awalnya film Dead Silence kurang disambut, namun kini berstatus cult.

Kisah bermula ketika Jamie (Ryan Kwanten) dan istrinya menerima kiriman paket berupa sebuah boneka yang dinamakan “Billy”. Ketika Jamie pergi keluar rumah dan kembali, ia terkejut menemukan istrinya tewas menggenaskan. Setelah Jamie dibebaskan atas tuduhan pembunuhan oleh detektif Lipton (Donnie Wahlberg) karena kurangnya bukti, ia segera menyelidiki asal mula boneka tersebut yang terselip sebuah surat dengan menyebutkan nama “Mary Shaw” dari kampung halamannya sendiri, Raven’s Fair.

Setibanya di Raven’s Fair, Jamie mengunjungi ayahnya bernama Edward (Bob Gunton), seorang kaya raya yang kini menderita sakit dan menggunakan kursi roda. Edward ditemani istri mudanya, yakni Ella (Amber Valletta), yang mengatakan bahwa hal tersebut adalah takhayul perihal kematian istri Jamie yang dikaitkan dengan boneka Billy. Jamie kemudian mengatur pemakaman istrinya, melalui Henry (Michael Fairman) dan istrinya, Marion (Joan Heney) yang memperingati Jamie akan sosok Mary Shaw dan boneka Billy-nya.

Dunia Sinema Dead Silence Ayah Jamie dan Ella
Universal Pictures

Sejak saat itu, Jamie harus berhadapan dengan berbagai kejadian misterius dan mengerikan, ditambah dengan kehadiran Lipton yang ternyata membuntutinya serta masih mencurigai Jamie atas kematian istrinya.

Film Dead Silence merupakan awal terobosan James Wan yang terus melanjutkan tema horor supranaturalnya melalui Insidious, The Conjuring hingga (lagi-lagi boneka) Annabelle. Penyajiannya dirasa begitu kuat dalam menghadirkan atmosfir horor mencekam sekaligus mengerikan, tentang wujud iblis dan roh jahat dengan setting lokasi di sebuah kota kecil yang sunyi sepi, akibat kutukan Mary Shaw.

Teka-teki akan hadirnya roh jahat beruwjud iblis tersebut, tentu saja menjadi elemen utama akan rasa penasaran baik terhadap karakter utamanya maupun audiens itu sendiri. Alur cerita yang digulirkan pun tidak sesederhana seperti yang dibayangkan, seperti saat Jamie harus kesana-kemari, artinya lebih dari satu kali mengunjungi kediaman ayahnya, bertemu dengan Henry, serta mendatangi sebuah gedung teater tua yang terbengkalai.

Unsur storytelling yang unggul itulah yang menarik perhatian di sepanjang cerita, penuh dengan kejutan dan twist akhir yang tak pernah disangka, meski objek dalam twist tersebut terlampau dipaksakan. Adapun kelemahan mendasar di film ini yakni karakterisasi yang standar dan cenderung terlupakan, seperti Jamie yang diperankan Ryan Kwanten terasa membosankan.

Begitu pula dengan karakter pendukung lainnya, seperti aktris dan model Amber Valletta dengan peran kecilnya sebagai pemanis, hanya saja Lipton yang diperankan Donnie Wahlberg (eks-New Kids on the Block), lumayan menyita perhatian, sebagai seorang detektif menyebalkan. Wahlberg kembali bergabung di film ini, setelah sebelumnya bermain dalam Saw.

Kolaborasi Wan dan sinematografer John R. Leonetti dalam menghadirkan aura horor misteri, mampu memberikan ruang kepada audiens untuk tidak bergegas mengambil kesimpulan dangkal, melalui berbagai sekuen akan proses investigasi Jamie yang sedikit diganggu oleh Lipton, serta memunculkan backstory saat Mary Shaw melakukan pertunjukkan ventriloquisme dengan boneka bernama Billy.

Dunia Sinema Dead Silence Boneka Billy
Universal Pictures

Setting kota kecil Raven’s Fair yang begitu sepi dan tenang dalam musim gugur dan berlangit mendung, semakin menegaskan akan kesan bahwa kutukan Mary Shaw memang eksis, meski dinilai klise dan umum di banyak film horor lainnya. Pewarnaan dalam color grading-nya pun tampak diturunkan dari semestinya, cenderung ke arah warna abu-abu dan sedikit biru.

Efek CGI di era tersebut memang mulai mendominan, seperti halnya di banyak film horor supranatural masa kini, penampakan sosok hantu iblis tidaklah seseram itu, kasus yang sama dengan film The Nun (2018). Malah yang bikin seram yakni sesaat sebelum sosok hantu menampakkan dirinya! Dan efek make-up terhadap karakter Mary Shaw dalam adegan backstory-nya itulah merupakan keseraman sesungguhnya.

Nostalgia film ini merupakan homage terhadap horor klasik, diantaranya melalui tema musik yang dilantunkan dengan keyboards, mirip dengan film The Exorcist (1973) atau Phantasm (1979), yang dikombinasikan dengan gaya modern saat opening dan ending credits.

Tema film Dead Silence dengan rasa klasik itu, akhirnya diikuti oleh beberapa film sejenis, sehingga kembali menaikkan kejayaan kisah horor supranatural melalui jalur mainstream, namun film ini memiliki premis unik -yakni ventriloquisme- yang jarang ditemui, sehingga layak untuk dinikmati. Semoga ke depannya, Mary Shaw dan Billy dapat kembali diikutsertakan dalam The Conjuring Universe.

Score : 3 / 4 stars

Dead Silence | 2007 | Horor, Misteri | Pemain: Ryan Kwanten, Amber Valletta, Donnie Wahlberg, Michael Fairman, Joan Heney, Bob Gunton, Judith Roberts, Laura Regan | Sutradara: James Wan | Produser: Gregg Hoffman, Oren Koules, Mark Burg | Penulis: James Wan, Leigh Whannell. Skenario: Leigh Whannell | Musik: Charlie Clouser | Sinematografi: John R. Leonetti | Distributor: Universal Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 89 Menit

Comments