Coming to America (1988): Petualangan Sang Pangeran Menemukan Sosok Wanita Ideal

coming to america petualangan pangeran temukan wanita ideal
Paramount Pictures

Petualangan seorang pangeran dari negeri antah-berantah di wilayah Afrika, datang ke Amerika dengan satu tujuan, yakni menemukan seorang wanita ideal yang menjadi impiannya, sekaligus bertualang dalam dunia baru yang belum pernah dialaminya.

Itulah premis film Coming to America, salah satu film terbaik yang dibintangi aktor komedian Eddie Murphy yang namanya melejit sejak era 80’an hingga 90’an.

Mengawali karirnya melalui stand-up comedy, debut layar perak Murphy di tahun 1982 langsung sukses melalui film 48 Hours, dilanjutkan dengan sejumlah film lainnya termasuk trilogi ikonik Beverly Hills Cop.

Ide Coming to America sendiri berasal dari Murphy sebagai penulis cerita, sedangkan John Landis kembali menyutradarainya, setelah mereka bekerjasama dalam film Trading Places (1983). Lebih dari 30 tahun kemudian, sekuelnya berjudul Coming 2 America, rencananya akan dirilis bulan Desember mendatang.

Baca juga: Animal House (1978): Awal Kepopuleran Komedi Seks Remaja

Film Coming to America mengisahkan pangeran Zamunda di Afrika bernama Akeem Joffer (Eddie Murphy) telah menginjak usia ke-21 dan akan dinikahkan oleh kedua orang tuanya yakni King Jaffe Joffer (James Earl Jones) dan Queen Aoleon (Madge Sinclair), dengan putri seorang kolonel.

Akeem yang kritis mempertanyakan hal tersebut, karena ia belum pernah mengenal wanita tersebut, serta berpandangan adanya proses ikatan dalam hubungan bertahap sebelum menikah.

Setelah berdiskusi dengan ayahnya, Akeem ditemani oleh ajudannya yakni Semmi (Arseno Hall) diijinkan untuk bertualang ke luar Zamunda melihat dunia baru. Akeem berinisiatif menuju Amerika untuk mencari dan menemukan wanita impiannya.

Setibanya di New York, Akeem memperingatkan Semmi agar tidak boleh ada seorangpun yang mengetahui identitas mereka. Dengan menyewa unit apartemen kumuh di kawasan Queens, Akeem sengaja menjadi warga sipil yang mulai tertarik dengan kehidupan di Amerika, sedangkan Semmi malah merasa enggan dan skeptis.

review film coming to america
Paramount Pictures

Setelah mereka kesulitan mencari wanita idaman yang ideal di sebuah bar, Akeem mendapat saran dari seorang tukang cukur rambut bernama Saul untuk menghadiri acara amal yang disponsori oleh Cleo McDowell (John Amos), pemilik restoran siap saji “McDowell”.

Dari situlah, Akeem terpikat dengan putri sulung Cleo bernama Lisa (Shari Headley), maka keesokan harinya Akeem dan Semmi melamar pekerjaan pada Cleo sebagai petugas kebersihan di restorannya.

Dalam beberapa kesempatan Akeem mencoba mendekati Lisa, namun rupanya ia harus bersaing dengan Darryl (Eric La Salle), putra pengusaha kaya yang telah direstui oleh Cleo. Namun Akeem tidak patah semangat sejak Lisa pun kecewa dengan keputusan ayahnya yang berusaha mewujudkan pernikahan dirinya dengan Darryl.

Sementara situasi menjadi runyam, tatkala Darryl selalu mem-bully Akeem, adik Lisa bernama Patrice menyukai Akeem, sedangkan Semmi muak dengan kehidupan ‘kelas rendah’-nya. Puncaknya terjadi, tatkala orangtua Akeem tiba di Amerika untuk menuntaskan hal yang tertunda di Zamunda.

Selama hampir dua jam menyaksikan film Coming to America, tak terasa saya larut dalam sebuah hiburan utuh terhadap narasi klasik tersebut. Adalah hal yang klise dan standar ala dongeng romantis sejenis yang berulang-kali diwujudkan dalam film Hollywood, termasuk yang satu ini.

Premis Coming to America memang menjadi daya tarik tersendiri, saat seorang karakter bangsawan bertualang menjelajah serta terlibat dalam dunia baru baginya, merendahkan derajatnya sebagai seorang penduduk sipil biasa.

Narasi tersebut sedikit mengingatkan saya akan film The Princess Diaries (2001), bahwa terdapat kekontrasan akan benturan terhadap ‘dua dunia’ yang mengundang sejumlah kejutan dan tawa lepas, karena umumnya disajikan sebagai hiburan ringan bergaya komedi.

ulasan sinopsis coming to america
Paramount Pictures

Untungnya saat itu ada Eddie Murphy sebagai penulis cerita sekaligus bintang utama yang mampu menghidupkan energi film ini secara total dalam penampilan dan berbagai gaya akting berbeda terhadap empat karakter sekaligus, yang sulit anda bedakan.

Performa Murphy sudah tidak perlu diragukan lagi, begitu pula dengan sesama komedian andal yakni Arsenio Hall, juga memerankan empat karakter yang berbeda. Ikatan solid keduanya berhasil memadukan duo dinamis yang menghibur, baik sebagai Akeem dan Semmi, maupun masing-masing sebagai karakter terpisah lainnya.

Sejumlah aktor.aktris pendukungnya pun menambah nilai drama yang berkualitas, khususnya untuk kehadiran sang raja Zamunda yang diperankan aktor berkarisma sekelas James Earl Jones.

Karakter Cleon yang diperankan John Amos pun menarik di film ini, sejak ia memiliki motif tersendiri, akan perubahan sikapnya berdasarkan materi, yang tidak akan dibahas lebih lanjut dalam ulasan ini. Sekadar trivia, bahwa Samuel L. Jackson muncul sekilas di film ini.

Kekuatan utama di film ini jelas terletak pada elemen komedi dan humor segar ala 80’an yang khas arahan John Landis yang dikenal dengan gaya humor briliannya, sebuah Blaxploitation yang dikombinasikan dengan beberapa parodi dan potongan sarkasme, seperti gaya bercanda satir sosial dan politik ala Afro-American, restoran McDowell yang mirip dengan McDonald, hingga produk Jheri Curl untuk rambut. 

Baca juga: Shaft (2019): Generasi Baru yang Setia pada Tradisinya

Meski demikian, penggambaran Zamunda dengan istana megah yang berdiri di tengah hutan lebat dan pepohonan subur, meriahnya pesta dan sejumlah tamu undangan yang hadir lengkap dengan kemewahan mereka, rasanya terlalu berfantasi dalam mewakilkan Afrika secara umum, bagaikan negeri Wakanda.

Film Coming to America jelas menjadi sebuah hiburan ringan akan kisah petualangan sang pangeran dalam menemukan sosok wanita ideal, yang sarat dengan sejumlah nilai hubungan dalam lapisan kelas sosial, melalui komedi berbobot. Klise, namun tetap menarik dan selalu dikenang.

Score: 3 / 4 stars

Coming to America | 1988 | Drama, Komedi | Pemain: Eddie Murphy, Arsenio Hall, James Earl Jones, John Amos, Madge Sinclair, Shari Headley, Paul Bates, Eric La Salle | Sutradara: John Landis | Produser: George Folsey Jr., Robert D. Wachs | Penulis: Eddie Murphy. Naskah: David Sheffield, Barry W. Blausten | Musik: Nile Rodgers | Sinematografi: Sol Negrin, Woody Omens | Distributor: Paramount Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 117 Menit

Comments

Popular Posts