Ulasan 4 Film ‘Indiana Jones’ yang Wajib Anda Tonton

ulasan review empat film indiana jones
Paramount Pictures, Lucasfilm, Disney

George Lucas adalah sang kreator dibalik sukses dan popularitas Star Wars serta Indiana Jones. Khusus judul terakhir adalah sekaligus nama waralaba film dan juga karakter protagonis yang tentu tak asing lagi.

Sejak Disney yang telah membeli Lucasfilm, mengumumkan perilisan film terbaru Indiana Jones di tahun 2022 yang, maka para penggemar dan audiens tak sabar ingin menyaksikan aksi sang arkeolog yang semakin menua tersebut. Semoga saja tidak ada politik identitas, mengingat kepemimpinan Lucasfilm tersebut.

Selain Star Wars, waralaba Indiana Jones termasuk salah satu yang terpopuler secara global. Film perdananya yakni Raiders of the Lost Ark (1981) adalah yang terlaris sepanjang tahun tersebut, dipuji kritikus, mendapat penghargaan Oscar, serta masuk dalam daftar National Film Registry.

Karakter Indiana Jones adalah sosok arkeolog-petualang heroik (yang sesungguhnya anti-hero) dan ikonik, melalui penampilan mengenakan topi fedora, jaket kulit, serta cambuknya yang terkenal itu, menginspirasi sekaligus memotivasi peningkatan minat akan aktivitas arkeologi secara umum.

Kolaborasi Lucas dan Steven Spielberg dalam mengembangkan film perdananya, dilanjtukan dengan tiga film lanjutan yang semuanya disutradarai Spielberg, serta serial televisi yakni The Young Indiana Jones Chronicles di era 90’an selama 2 season serta 4 episode sebagai film televisi.

Nama Harrison Ford yang telah populer bersama Star Wars saat itu semakin bersinar setelah bermain sebagai pemilik nama asli Dr. Henry Walton ”Indiana” Jones, Jr. sehingga di tahun-tahun selanjutnya kebanjiran peran signifikan dalam sejumlah film besar termasuk dua lanjutan Indiana Jones dalam dekade yang sama.

Baca juga: Blade Runner (1982): Dampak Penciptaan 'Manusia'

Dalam dua era yakni 70’an dan 80’an, Lucas dan Spielberg kerap mendominasi pencapaian mereka sebagai sineas, dalam mendominasi perfilman Hollywood dan dunia. Tanpa panjang lebar, berikut adalah ulasan singkat 4 film Indiana Jones lengkap dengan penilaiannya:

review raiders of the lost ark
Paramount Pictures, Lucasfilm, Disney

Raiders of the Lost Ark (1981)

Tahun 1936, dua orang intelijen Amerika melalui seorang kurator museum Marcus Brody (Denholm Elliot), meminta bantuan seorang arkeolog bernama Indiana “Indy” Jones (Harrison Ford) perihal ekskavasi benda purbakala yang dilakukan pihak Nazi di wilayah Tanis, dengan petunjuk berupa telegram yang merujuk pada Profesor Ravenwood yang tak lain yakni mentor Indy.

Indy berdeduksi bahwa pihak Nazi menginginkan artefak berupa Tabut Perjanjian yang hilang dan kemungkinan berada di Tanis, agar memiliki pasukan tak terkalahkan. Ia menuju wilayah Nepal dan bertemu dengan putri Ravenwood sekaligus mantan kekasihnya yakni Marion (Karen Allen) yang memiliki sebuah medali sebagai petunjuk lokasi Tabut tersebut.

Setelah berseteru dengan agen Gestapo yang dipimpin oleh Arnold Toht (Ronald Lacey) yang mengincar medali tersebut, Indy dan Marion terbang menuju Mesir dan bertemu dengan kawan lama Indy yakni Sallah (John Rhys-Davies) yang kemudian membantu mereka dalam pencarian Tabut Perjanjian.

Dalam petulangannya, Indy mengalami sejumlah konflik dan kejutan yang menimpa Marion, selain harus kejar-kejaran dengan Nazi dalam penemuan Tabut Perjanjian, juga munculnya arkeolog saingan bernama René Belloq (Paul Freeman).

Andaikan saja di tahun 1981 saya sudah cukup umur untuk menyaksikan film Raiders of the Lost Ark di bioskop dan pertama kali mengenal karakter Indiana Jones, mungkin bakal ternganga melebihi ekspektasi apapun, terlebih di jaman itu informasi media massa sangat terbatas.

Kehandalan Spielberg dalam mengeksekusi seluruh aspek dalam film dengan genre aksi laga-petualangan ditambah sedikit fantasi-supranatural dan mungkin fiski ilmiah tersebut sungguh teruji hingga mungkin berada di level tertinggi, setelah mampu mengesankan audiens melalui Jaws (1975) ataupun Close Encounter of the Third Kind (1977).

sinopsis raiders of the lost ark
Paramount Pictures, Lucasfilm, Disney

Terinspirasi dari sejumlah film petualangan, aksi laga serta fiksi ilmiah di era 30’an dan 40’an, maka setting waktu narasi pun terjadi dalam Pra-Perang Dunia II, yang tentu saja memposisikan pihak Nazi sebagai antagonis sesaat sebelum memporak-porandakan Eropa.

Sebagai seorang arkeolog dari Amerika, Indiana Jones atau yang akrab dipanggil Indy, digambarkan sebagai seorang akademisi yang mengajar di perguruan tinggi.

Bumbu laga dan petualangan di film ini memang sangat fiktif sejak ia mahir dalam berkelahi dan menuntut aktivitas fisik layaknya seseorang yang handal dan terlatih, untuk menantang bahaya terhadap ancaman musuh maupun berbagai jebakan mengerikan dalam menemukan artefak kuno.

Walaupun demikian, narasinya diimplementasikan dengan cara yang sangat menghibur sekaligus elegan, tanpa mengesampingkan logika dasar maupun sebagian fakta yang ada.

Adapun karakterisasi Indiana Jones tak kalah menariknya, bagaimana sebagai seseorang yang boleh dibilang anti-hero tetap berada di pihak protagonis melawan kejahatan dan kecurangan dari pihak oposisi. Indy juga merupakan sosok yang kadang rapuh, cenderung naif, serta sinis.

Visi Lucas-Spielberg terhadap film tersebut sudah memberikan impresi sejak awal kemunculan logo Paramount Pictures menuju transisi sebuah gunung di wilayah Amerika Selatan, berupa adegan pembuka dalam aksi Indy menemukan artefak Golden Idol.

Alur yang menarik dalam sejumlah lokasi berbeda, mulai Peru, Amerika Serikat, Nepal, Kairo hingga sebuah pulau di Laut Aegea, disajikan melalui petualangan seru Indy yang bermula dari hutan tropis, kembali di kampung halaman dalam sebuah kampus, menuju pemukiman di hamparan salju, hingga wilayah gersang padang gurun.

ulasan film raiders of the lost ark
Paramount Pictures, Lucasfilm, Disney

Banyaknya aksi laga variatif juga memperkaya adegan yang dikenang dan ikonik, seperti batu besar berbentuk bola menggelinding yang mendebarkan, atau pula Marion sedang adu kuat minum dan saat Indy berhadapan dengan salah satu algojo lokal yang mengundang tawa.

Sedangkan adegan perkelahian Indy dengan tentara Nazi dekat pesawat dan adegan cermin antara Indy dengan Marion yang bikin ngilu, semerawutnya aksi laga di sudut pasar Kairo, serta aksi seru pemicu adrenalin akan perkelahian dalam konvoi kendaraan, tentu tak kalah megahnya.

Efek spesial yang digunakan di film tersebut, tidak perlu dipertanyakan lagi mengingat Lucas dan Spielberg merupakan dua figur yang mempelopori teknik progresif dalam visual sebuah film. Hal tersebut tercermin dalam adegan akhir yang epik sekaligus mengerikan!

Tema musik ikonik yang dimainkan John Williams lagi-lagi selalu terngiang hampir di sepanjang adegan hingga kredit penutup, meski sekilas kadang mirip dengan Star Wars, atau bahkan dekat dengan tema Superman.

Tak salah jika Spielberg tetap memilih Harrison Ford sebagai Indy meski awalnya tidak disetujui Lucas, juga performa Paul Freeman sebagai Belloq tak kalah mengkilapnya selain juga John Rhys-Davies sebagai Sallah dan Karen Allen sebagai Marion yang tangguh.

Film Raiders of the Lost Ark adalah jalan pembuka yang sempurna bagi salah satu karakter ikonik yang terpopuler yakni Indiana Jones, dalam mengangkat dunia arkeologi menjelajahi kultur-histori dengan bumbu supranatural-fantasi-fiksi ilmiah.  
       
Score: 4 / 4 stars | Pemain: Harrison Ford, Karen Allen, Paul Freeman, Ronald Lacey, John Rhys-Davies, Denholm Elliot, Wolf Kahler | Sutradara: Steven Spielberg | Produser: Frank Marshall | Penulis: George Lucas, Phillip Kaufman. Naskah: Lawrence Kasdan | Musik: John Williams | Sinematografi: Douglas Slocombe | Distributor: Paramount Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 115 Menit

review ulasan indiana jones and the temple of doom
Paramount Pictures, Lucasfilm, Disney

Indiana Jones and the Temple of Doom (1984)

1935 di Shanghai, Indy (Harrison Ford) yang berseteru dengan Lao Che terkait artefak kuno dan berlian sebagai sebuah pertukaran, tak sengaja menyeret seorang penyanyi klub bernama Willie (Kate Capshaw) dan asisten Indy bernama Short Round (Ke Huy Quan) menumpang pesawat yang salah saat mereka yakini bakal menuju Amerika.

Maka mereka bertiga terdampar di desa Mayapore, India. Sang pemimpin desa yang menyingkap ramalan akan kepercayaan mereka, merujuk Indy sebagai sang penolong sekaligus meminta bantuannya sejak batu sakral desa yakni Shivalinga diyakini dicuri serta anak-anak diculik oleh kekuatan jahat yang berasal dari Istana Pankot,

Indy, Willie serta Short Round sesampainya di istana disambut oleh Perdana Menteri Chattar Lal (Roshan Seth), lalu ada pula Kapten Philip (Philip Stone) dari Inggris, hingga tiba dalam perjamuan makan yang dihadiri Sang Maharaja. Teori Indy tentang aliran kultus Thuggee yang terlibat dalam aktivitas kejahatan terhadap Desa Mayapore, disanggah oleh pihak istana.

Malam harinya setelah berhasil lolos dari usaha pembunuhan, tak sengaja Indy dibantu Short Round dan Willie, menyelinap ke dalam ruang rahasia yang menghubungkan pada altar persembahan korban untuk Dewa Kali yang dipimpin Pendeta Mola Ram (Amrish Puri).

Dalam petualangannya, mereka bertiga mengalami serangkaian kejadian mengerikan, mengejutkan serta mendebarkan, guna membongkar misteri sebuah kuil Dewa Kali terhadap ilmu hitam dan perbudakan.

Mungkin tidak banyak yang sadar, bahwa film lanjutan dari Indiana Jones ini adalah sebuah prekuel, mengingat setting waktu mundur satu tahun ke belakang dari kisah di film sebelumnya.

Adapun elemen dan atmosfir yang cenderung dark dalam narasinya, berdasarkan pahitnya pengalaman akan perpisahan masing-masing pasangan yang dialami oleh Lucas dan Spielberg pada masa itu.

sinopsis indiana jones and the temple of doom
Paramount Pictures, Lucasfilm, Disney

Meski premisnya terkonsentrasi di wilayah Asia dan menghabiskan waktu di seputaran desa, maupun lingkungan istana serta kuil, yang terkesan sebagai film Indiana Jones yang kurang menarik, namun keunggulannya terletak pada aura kengerian yang begitu kuat dan intens, serta aksi laga yang kembali megah dan epik.

Adegan saat pertama kalinya Indy, Willie serta Short Round menyaksikan upacara pengorbanan yang dilakukan Mola Ram, diiringi efek suara dan scoring meyakinkan, mampu mengintimidasi audiens secara mengejutkan dan mendebarkan, barangkali dari semua filmnya, inilah yang paling horor!

Elemen humor pun hadir tak kalah menggelegarnya, dimulai dalam adegan kejar-kejaran mobil di jalanan kota Shanghai, hingga perjamuan makan malam dengan menu spesial yang tak akan terlupakan!

Hal tersebut ditambah dengan aksi laga spektakuler favorit saya yakni kejar-kejaran kereta dalam jalur penambangan, dengan jalur yang begitu panjang dan berliku, meski mustahil karena terdapat jalur turunan curam bagaikan wahana roller-coaster yang diperkuat suasana remang-remang dari cahaya lampu seadanya.

Tak lupa pula adegan klimaks dan aksi gila di sebuah jembatan diantara dua tebing curam yang menjulang tinggi pun tak kalah mendebarkannya!

Ford memang tak tergantikan sebagai Indiana Jones, sedangkan sidekick-nya yakni Short Round yang diperankan secara impresif oleh Ke Huy Quan tak heran jika kembali hadir dalam film The Goonies (1985). Kontras dengan karakter Willie yang diperankan Kate Capshaw sangat mengganggu sejak terlalu sering berteriak ketakutan!

Film Indiana Jones and the Temple of Doom memang bukan favorit saya, menyadari akan begitu sederhananya alur terhadap premis yang tidak membutuhkan teka-teki rumit dan menantang, juga elemen dark dan setting lokasinya.

Meski demikian masih pantas untuk dnikmati sebagai bagian utuh saga Indiana Jones yang memiliki warna berbeda.
       
Score: 3 / 4 stars | Pemain: Harrison Ford, Kate Capshaw, Amrish Puri, Roshan Seth, Philip Stone, Ke Huy Quan | Sutradara: Steven Spielberg | Produser: Robert Watts | Penulis: George Lucas. Naskah: Willard Huyck, Gloria Katz | Musik: John Williams | Sinematografi: Douglas Slocombe | Distributor: Paramount Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 118 Menit

review indiana jones and the last crusade
Paramount Pictures, Lucasfilm, Disney

Indiana Jones and the Last Crusade (1989)

1912 di Utah, Amerika, Henry Jones, Jr. yang berusia 13 tahun, berhasil merebut artefak Salib Emas dari sekelompok perompak, hingga kisah berlanjut saat Indy telah dewasa dan kembali berhadapan dengan orang yang sama di Portugal.

Setelah kembali ke Amerika, seorang pengusaha bernama Walter (Julian Glover) memberitahukan bahwa ayah Indy yakni Henry Jones, Sr. (Sean Connery) menghilang dalam rangka mencari Cawan Suci Perjamuan Terakhir, melalui penelitian terhadap sebuah inskripsi yang belum lengkap.

Melalui petunjuk terakhir berupa sepucuk surat dari kota Venesia, Indy dan kurator museum Marcus Brody (Denholm Elliot), menemui kolega Henry Jones bernama Dr. Elsa Schneider (Alison Doody).

Usaha mereka dalam mencari ayah Indy untuk menemukan Cawan Suci pun mengalami sejumlah rintangan, tentu saja selain ancaman pasukan Nazi yang juga mengincarnya, juga datang dari sekelompok bersenjata misterius yang terlatih.

Film Indiana Jones terfavorit sekaligus saya nilai sebagai sekuel terbaik sepanjang masa, Indiana Jones and The Last Crusade merupakan saga komplit yang mengangkat tema keluarga dalam hubungannya dengan (lagi-lagi) artefak relijius dan ancaman kejahatan nyata, dengan tepat sasaran.

Secara terperinci, kilas balik masa remaja Indy dalam adegan pembuka pun sudah memberikan kesan istimewa, bagaimana dalam darah arkeologi sang ayah, ia memiliki tekad dan idealisme dalam memperebutkan artefak berupa Salib peninggalan Spanyol, dari tangan para perompak.

ulasan film indiana jones and the last crusade
Paramount Pictures, Lucasfilm, Disney

Diuraikan pula sejak adegan aksi di kereta sirkus hingga menuju rumah Indy, asal-muasal ia fobia terhadap ular, memiliki bekas luka di dagunya, menggunakan cambuk sebagai alat favoritnya, serta mengenakan topi fedora.

Transisi adegan dari Indy remaja menuju dewasa pun dalam posisi sama, melibatkan pula objek dan figur antagonis yang sama. Pengulangan adegan saat Indy sedang mengajar di sebuah kampus, menegaskan film ini kembali mengakar pada Raiders of the Lost Ark.

Tentu saja dinamika hubungan ayah-anak (dalam hal ini Henry Jones senior dan junior), telah tersaji dalam adegan pembuka yang memberikan pesan bahwa sang ayah sedang terobsesi dalam pencarian
Cawan Suci.

Sedangkan waktu terus berjalan hingga dalam suatu dialog di pertengahan cerita, setidaknya ada dua argumen terhadap perspektif berbeda. Sang ayah yang sibuk dengan profesinya berupaya menyelamatkan dunia menjadi lebih baik, sedangkan Indy di masa lalunya merasa diterlantarkan sang ayah.

Maka melalui petualangan kali ini, mereka mengalami rekonsiliasi dan refleksi akan arti pengorbanan dan penebusan serta kasih dalam keluarga. Hal tersebut sangat relevan dengan aspek relijius akan makna dan simbol dari
Cawan Suci yang dikhawatirkan akan jatuh ke tangan yang salah.  

Karakter Indy sendiri mengalami perkembangan signifikan dalam mengeksploitasi kerapuhan dan kerinduan akan keluarga, serta sempat tergoda oleh kehadiran
Cawan Suci. Pemilihan Sean Connery sebagai sang ayah, memang tak tergantikan seperti hanya Ford sebagai Indy. Ikatan emosional keduanya sungguh dinamis.

Maka pihak Nazi kembali sebagai antagonisnya dan semakin menguatkan adanya ancaman nyata mengingat setting waktu cerita yakni 1938, setahun sebelum Nazi menyerang Polandia yang mencetuskan dimulainya Perang Dunia II.

Munculnya figur Adolf Hitler dan adegan pembakaran buku adalah peristiwa historis akan kejamnya partai Nazi dengan ideologi fasisme. Lucunya adegan Hitler menandatangani buku harian Henry Jones, Sr. yang dipegang Indy sungguh ironis dan membuat tawa.

sinopsis indiana jones and the last crusade
Paramount Pictures, Lucasfilm, Disney

Kejutan dalam adegan di Kastil Brunwald sesungguhnya juga mengulangi pola yang mirip dengan Raiders of the Lost Ark. Kali ini juga karakter kocak Marcus Brody yang diperankan Denholm Elliot lebih banyak terlibat, selain kembalinya John Rhys-Davies sebagai Sallah.

Aktris Irlandia Alison Doody berperan sebagai femme fatale orang Austria yakni Dr. Schneider, sedangkan yang mencuri perhatian tentu saja penampilan mendiang idola remaja saat itu sekaligus sang kakak Joaquin Phoenix, yakni River Phoenix yang memiliki kapasitas mumpuni serta karisma yang sama sebagai Indy versi belia.

Sejumlah quote sederhana namun begitu mengena pun terjadi terhadp dialog dalam sebuah adegan saat Indy dan sang ayah dikejar-kejar Nazi, menguatkan humor dan komedi segar yang mampu mengocok perut audiens seperti: “Fly, yes!” Land, no!” atau juga ”What happen to 11 o’clock?

Banyak sekali adegan dan aksi laga ikonik dan dikenang, mulai dari humor di perpustakaan, Indy tiba di Kastil Brunwald yang dilanjutkan dengan usaha pelarian diri mereka, serunya rangkaian adegan di dalam zeppelin hingga dikejar oleh pesawat Nazi, juga perkelahian di atas tank hingga jatuh ke dalam jurang.

Puncaknya berada dalam adegan di sebuah lokasi yang menyimpan
Cawan Suci, penuh kejutan akan aksi tak terduga, disertai dengan visual menakjubkan lengkap dengan sejumlah jebakan mematikan.

Masih dengan efek spesial sebelum era CGI, terasa kemajuan yang lebih baik dibandingkan dengan film pertamanya, terutama dalam adegan kematian antagonis, meski tidak semeriah itu namun begitu efektif dan mengerikan.

Berbagai setting fantastis sesuai dengan alur ceritanya pun tersaji seperti dalam sudut di gedung perpustakaan, adegan pengejaran di kanal Venesia, Kastil Brunwald, hingga turut mempopulerkan Petra di Jordania sebagai objek wisata legendaris.

Indiana Jones and The Last Crusade adalah contoh sempurna dalam mengeksekusi di setiap adegannya dengan menarik, bukti kejeniusan kolaborasi Spielberg-Lucas yang menghantarkan waralaba tersebut menuju puncak keberhasilannya.
       
Score: 4 / 4 stars | Pemain: Harrison Ford, Sean Connery, Denholm Elliot, Alison Doody, John Rhys-Davies, Julian Glover | Sutradara: Steven Spielberg | Produser: Robert Watts | Penulis: George Lucas, Menno Meyjes. Naskah: Jeffrey Boam | Musik: John Williams | Sinematografi: Douglas Slocombe | Distributor: Paramount Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 130 Menit

review indiana jones and the kingdom of the crystal skull
Paramount Pictures, Lucasfilm, Disney

Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull (2008)

1957 Indy (Harrison Ford) berhasil melarikan diri dari Hangar 51 di wilayah Nevada, Amerika setelah berkonfrontasi dengan Agen Uni Soviet pimpinan Irina Spalko (Cate Blanchett) dan dikhianati rekannya bernama Mac (Ray Winstone), dalam upaya membawa jenazah mahluk luar angkasa.

Akibatnya profesi Indy sebagai tenaga pengajar terancam sejak keterlibatan kasus yang diselidiki FBI. Sesaat hendak pergi ke luar negeri, Indy dicegat oleh seorang pemuda bernama Mutt Williams (Shia LaBeouf) yang menginformasikan bahwa kolega Indy yakni Profesor Oxley (John Hurt) sedang menyelidiki artefak berupa Tengkorak Kristal di Peru.

Oxley dan ibunya Williams diculik oleh sekelompok orang tak dikenal, dan Mutt memperlihatkan sebuah surat dari ibunya berupa teka-teki berupa bahasa kuno yang berkaitan dengan Legenda Tengkorak Kristal di wilayah Akator, bersamaan dengan itu pula dua orang agen Soviet mengejar mereka.

Indy dan Mutt tiba di Peru dan mendatangi ruah sakit jiwa yang pernah ditempati Oxley, mereka segera mendapat petunjuk yang mengarah kepada makam Francisco de Orellana, seorang penakluk asal Spanyol yang pernah mencari Tengkorak Kristal di Akator.

Lagi-lagi kelompok Spalko yang dibantu Mac, berhasil mencegat Indy dan Mutt untuk dijadikan tawanan mereka menuju hutan Amazon, guna memecahkan misteri Tengkorak Kristal tersebut, sekaligus sebuah pertemuan kejutan yang telah menanti Indy.

sinopsis indiana jones and the kingdom of the crystal skull
Paramount Pictures, Lucasfilm, Disney

Terinspirasi dari sejumlah film fiksi ilmiah era 50’an, khususnya tema tentang invasi mahluk asing atau extraterrestrial, dan juga gaya greaser (rambut mengkilap dan jaket kulit), film Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull tampak sedikit aneh dan kontradiktif mengingat penilaian umumnya.

Jika tiga film sebelumnya berkaitan dengan aspek religi dan supranatural, maka di filmnya yang ke-4 ini sangat relevan dengan dugaan campur tangan mahluk luar angkasa, terhadap peradaban kuno para leluhur umat manusia, sehingga di satu sisi terasa jauh dalam jangkauan narasi Indiana Jones secara keseluruhan.

Bagaimanapun juga, tema keluarga yang masih melekat sejak film The Last Crusade, kembali dihadirkan dalam rentang waktu hampir 20 tahun, yang kali ini Indy menjadi sosok ayah dan berkolaborasi dalam petualangan dengan anaknya, oh ya selain juga dengan seseorang yang istimewa.

Meski levelnya tentu saja di bawah The Last Crusade, film ini berupaya keras mempertahankan atmosfir lengkap seperti sedia kala, baik dalam aksi laga, humor maupun kengerian yang dibangun, dalam porsi kecil tentunya.

Hilangnya humor segar baik dari aksi dan terutama dialog, digantikan dengan yang serba tanggung dan hanya membuat saya tersenyum sedikit. Begitu pula hilangnya kengerian nyata, yang terpoleskan dengan CGI belaka, sungguh dsayangkan seperti ganasnya semut Siafu ataupun klimaks di adegan akhir sang mahluk luar angkasa.

Seperti halnya trilogi prekuel Star Wars, film Indiana Jones kali ini terasa mengecewakan di beberapa adegan tertentu dalam eksekusi akhir dari serangkaian jalan cerita yang sebenarnya impresif. Beberapa hal mengingatkan saya akan filmnya Spelberg, Close Encounter of the Third Kind, atau misalnya film Predator 2 (1990) saat lepas landas.

Akan tetapi adegan pengejaran Indy dan Mutt dengan dua agen Soviet mulai dari sebuah kafe, beralih ke jalanan sudut kota hingga terdampar di perpustakaan kampus, merupakan favorit saya, karena berlatar di era 50’an seperti dalam film Back to the Future (1985) yang juga melibatkan Spielberg.

ulasan indiana jones and the kingdom of the crystal skull
Paramount Pictures, Lucasfilm, Disney

Tak kalah impresifnya, sekuen pengejaran di hutan Amazon juga mengingatkan kemiripan gaya dengan filmnya Lucas, Return of the Jedi (1983).

Demikian pula adegan dan setting yang sangat mendukung saat Indy dan Mutt memasuki area pemakaman de Orellana, begitu misterius terlebih saat munculnya sejumlah figur mengintai mereka yang sulit ditebak pada mulanya. Disitulah kengerian dan keseraman sesungguhnya hadir.

Pengembangan karakter Indy sendiri yang telah melewati paruh baya, jelas lebih bijak dan stabil emosinya, terutama dari intonasi dialog yang ia lontarkan, serta kecepatan dan kegesitan fisik yang jelas menurun performanya. Maka saya sulit membayangkan jika tahun depan sekuelnya bakal dirilis, seperti apa aksinya itu.

Karakter Mutt Williams yang diperankan Shia LaBeouf sulit untuk bisa dikenang, sehingga malah diragukan sebagai penerus Indy, sedangkan kembalinya Karen Allen jelas istimewa dan membawa nostalgia utuh dari film perdananya.

Sang antagonis Irina Spalko diperankan dengan meyakinkan oleh Cate Blanchett melalui penampilan menawan namun mematikan, khas agen Soviet yang dingin, sesuai kultur populer dari propaganda Barat. Kehilangan karakter Brody dan Sallah terasa sangat hampa akan elemen “fun” dan menghibur.
   
Score: 2.5 / 4 stars | Pemain: Harrison Ford, Cate Blanchett, Karen Allen, Ray Winstone, John Hurt, Jim Broadbent, Shia LaBeouf | Sutradara: Steven Spielberg | Produser: Frank Marshall | Penulis: George Lucas, Jeff Nathanson. Naskah: David Koepp | Musik: John Williams | Sinematografi: Janusz Kamiński | Distributor: Paramount Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 122 Menit

Comments

  1. Nah ini yg ditunggu2, perbanyak lagi review franchise2 movie yg populer min 👍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siap, Kak ... sudah terjadwalkan :) Terima Kasih.

      Delete

Post a Comment