Trancers (1984) : ‘Sang Penunggang’ dalam Film Kelas B

Dunia Sinema Review Trancers
Empire Pictures

Iseng, santai, dan jangan serius! Baru saja saya menyaksikan sebuah film action science fiction kelas B, berjudul Trancers. Sebuah film dengan kombinasi serasi antara sejumlah film detektif noir di era 40’an, dengan Blade Runner (1982), The Terminator (1984), serta bahkan Night of the of the Dead (1968). Cukup unik.

Dengan bujet seadanya, jajaran kru dalam film Trancers pun begitu asing bagi saya, kecuali nama Helen Hunt. Aktris yang dikenal lewat sitkom Mad About You dan Twister (1996) tersebut, memang saat itu belum populer. Sineas Charles Band juga saya kenal lewat franchise horor kelas B, seperti Puppet Master dan Subspecies.

Penjelajahan waktu menjadikan sebuah tema utama dari cerita, yang mengisahkan Jack Deth (Tim Thomerson), seorang polisi di tahun 2247, memburu seorang kriminal bernama Martin Whistler (Michael Stefani).

Whistler adalah seorang yang ahli menggunakan kekuatan psikisnya melalui orang lain, untuk dijadikan ‘trancers’ (atau bisa disebut ‘sang penunggang’). Orang yang ditunggangi dan dijadikan sebagai alat komunikasi oleh Whistler tersebut, akan berubah menjadi semacam zombie.

Whistler melarikan diri menuju masa lalu dengan tujuan untuk membasmi para dewan pemerintah di masa depan, melalui teknik induksi medis penjelajahan waktu. Tubuhnya di tahun 2247 ditinggalkan, dan ia menguasai tubuh moyangnya di tahun 1985, seorang detektif polisi bernama Weisling. 

Jack yang ditugasi memburu Whistler pun akhirnya terjun ke tahun 1985, dengan menggunakan teknik yang sama, dengan meminjam tubuh moyangnya, seorang jurnalis bernama Phil Dethton. Dengan bantuan kekasih Dethton yakni Leena (Helen Hunt), Jack pun memburu Whistler. 

Sebenarnya, awal cerita film ini memang cukup menjanjikan. Dengan suasana dan segala pernak-pernik futuristik, ditampilkan cukup cemerlang.

Mungkin karena berbiaya rendah, elemen noir seperti di film Blade Runner pun ditampilkan seadanya. Mulai dari suasana di salah satu sudut perkotaan, kemegahan dan gemerlapnya lampu-lampu neon, kendaraan yang bisa terbang, hingga senjata laser yang digunakan, lumayan untuk menghadirkan ambience yang pas.

Adegan aksi di awal cerita pun cukup mengejutkan, ketika Jack Deth berkonfrontasi dengan salah satu zombie di sebuah kafe yang penuh dengan gemerlap cahaya
neon, bermandikan cahaya warna pastel.

Kemudian cerita beralih kepada adegan yang juga cukup mengesankan bagi saya, ketika Jack menuju sebuah pantai setelah ia menyelam. Tampak latar perkotaan melalui berbagai gedung bertingkat di Los Angeles yang tenggelam oleh laut. Painting matte tersebut cukup impresif dan realistis.


Dunia Sinema Trancers Jack Deth dan Leena
Empire Pictures


Berbagai adegan berikutnya, tidak ada yang istimewa atau menghebohkan, kecuali kekuatan “pencegah waktu” yang berasal dari jam tangan Jack, untuk menghindar dari hal-hal yang tak diinginkan merupakan konsep yang menarik, melalui waktu yang berputar akan berhenti, serta orang-orang dan benda-benda disekelilingnya akan terdiam selama beberapa detik.

Jam tangan tersebut adalah satu-satunya gadget yang dipakai oleh Jack. Jam tangan berjenis digital tersebut berpenampilan sangat sederhana dengan warna hitam polos. Bahkan penampakannya tidak diperlihatkan secara detail.

Tidak hanya pakaian dan atributnya, mobil yang dipakai oleh karakter Jack pun cukup antik. Dengan memakai mobil kuno sekitar era 40’an, yang didesain dengan pemakaian lampu neon di bagian atas bumper depan. Dan di belakangnya dipasang sebuah alat yang mirip dengan DeLoeran-nya Back to the Future. Serta mobil futuristik lainnya yang mirip dalam film Blade Runner.

Ada satu adegan humor yang mampu membuat saya tertawa cukup renyah, saat Jack diajak Leena ke sebuah klub punk rock. Jack yang memakai setelan kemeja dan dasi, kebingungan serta mencoba mengikuti irama punk rock yang menghentak-hentak, sementara Leena dan pengunjung lainnya sedang bergoyang menikmati lagu. Juga adegan perkelahian Jack dengan beberapa orang bergaya punk, cukup menghibur.

Keunikan dari film ini adalah, penampilan dan gaya seperti sejumlah film noir era 30’an dan 40’an ala Philip Marlowe atau bahkan Dick Tracy, yang direpresentasikan kepada beberapa karakter polisi detektif di tahun 2247.

Performa aktor Tim Thomerson sebagai Jack Deth, dengan usia hampir setengah baya, bisa menunjukkan karisma sebagai seorang jagoan yang old school dan tangguh seperti badass.

Penampilan Helen Hunt muda sebagai Leena, menarik perhatian saya dengan mukanya yang imut, meski aktingnya sangat standar. Akting Michael Stefani sebagai penjahat, cukup baik dan cenderung stereotip, layaknya penjahat berkarakter seperti dalam berbagai film action umumnya.

Film Trancers tentu saja bakal busuk jika tidak ada scoring dan soundtrack. Alat synthesizer yang memang menjadi trend era 80’an, mungkin menjadi satu-satunya jenis musik yang cocok untuk film futuristik berbujet rendah. Bagian yang saya suka, yakni ketika scoring dimainkan dengan tone yang melankolis, seperti dalam adegan romantis antara Jack dan Leena, serta dalam ending credits.

Melalui paparan cerita yang sederhana, adegan seadanya, performa standar, film Trancers menjadi sebuah tontonan yang cukup untuk menghilangkan rasa jenuh.

Mungkin kelebihan film Trancers adalah perpaduan ide dan konsep cerita, yang mengambil beberapa unsur film sejenis yang populer. Film ini memang boleh dikatakan stylish, dengan sentuhan noir yang baik.

Trancers yang berstatus cult ini kemudian dibuatkan beberapa sekuelnya.

Score : 2 / 4 stars

Trancers | 1984 | Fiksi Ilmiah, Aksi Laga | Pemain: Tim Thomerson, Helen Hunt, Michael Stefani, Art LaFleur | Sutradara: Charles Band |  Produser: Charles Band | Penulis: Danny Bilson, Paul De Meo  | Musik: Phil Davies, Mark Ryder | Sinematografi: Mac Ahlberg | Distributor: Empire Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 76 Menit

Comments