Review Indiana Jones and the Dial of Destiny, Parodi Sesat Disney

indiana jones and the dial of destiny parodi sesat disney
Disney Studios Motion Pictures

Sinema petualangan review Indiana Jones and the Dial of Destiny, parodi sesat Disney.

Sejak dimiliki Disney, Indiana Jones and the Dial of Destiny versi Disney, menjadi sebuah parodi sesat.

Setelah Star Wars, kini giliran Indiana Jones menjadi parodi sesat terkait politik identitas yang dilakukan Disney.

Indiana Jones merupakan bagian dari Lucasfilm, termasuk Star Wars yang dijual George Lucas kepada Disney yang berujung kontroversi.

Baca juga: 2 Sekuel 'Star Wars' yang Mungkin Bisa Anda Tonton

Indiana Jones and the Dial of Destiny adalah film kelima dari waralaba Indiana Jones.

Film ini merupakan sebuah penantian panjang dari penggemar maupun awam sejak beberapa tahun lalu.

Baca juga: Ulasan 4 Film 'Indiana Jones' yang Wajib Anda Tonton

Empat film Indiana Jones sebelumnya yaitu: Raiders of the Lost Ark (1981), Indiana Jones and The Temple of Doom (1984), Indiana Jones and The Last Crusade (1989), serta Indiana Jones and The Kingdom of the Crystal Skull (2008).

review indiana jones and the dial of destiny
Disney Studios Motion Pictures

Film Indiana Jones pertama dan ketiga disebut sebagai yang terbaik dan meraih pendapatan fantastis.

Seperti halnya Star Wars, waralaba Indiana Jones berada di ujung tanduk, meski Harrison Ford tetap berperan sebagai figur utama.

Sejak George Lucas dan Steven Spielberg tidak terlibat, posisi sutradara diberikan kepada James Mangold.

Kritik pedas mulai muncul sejak hadir aktris feminis modern, Phoebe Waller-Bridge yang sukses menghancurkan waralaba James Bond.

Baca juga: No Time To Die (2021): Penutup Sentimental James Bond

Trailer Indiana Jones and the Dial of Destiny tidak terkesan menakjubkan dan hilang sentuhan, apalagi hadir efek CGI manipulatif itu.

Kathleen Kennedy menjadi biang kontroversi waralaba Star Wars dan Indiana Jones melalui agenda politik identitas sampah yang sesat.

indiana jones and the dial of destiny feminisme modern
Disney Studios Motion Pictures

Indiana Jones and the Dial of Destiny mengisahkan pada tahun 1944 dalam ambang kekalahan Nazi dari Sekutu.

Indiana Jones (Harrison Ford) berada dalam perebutan Tombak Longinus dengan pihak Nazi, yang kemudian diketahui ternyata benda tiruan.

Dalam upaya membebaskan sahabatnya, Basil Shaw, Indy tak sengaja menemukan potongan Dial Archimedes yang semula dipegang oleh Jürgen Voller (Mads Mikkelsen).

Indy sempat berkelahi dengan Voller, namun berhasil ia bawa kembali ke Amerika.

Pada tahun 1969, Indy yang telah berpisah dengan Marion, setelah kematian putra mereka dalam Perang Vietnam, Mutt, kini hidup di Kota New York.

Suatu hari, ia ditemui Helena Shaw (Phoebe Waller-Bridge), putri Basil sekaligus anak baptis bagi Indy.

Helena adalah seorang arkeolog sekaligus pemburu harta karun, tertarik dengan Dial Archimedes.

Bersama dengan Indy, mereka menuju kampus tempat Indy mengajar, lalu Indy menunjukkan benda tersebut kepada Helena.

Bersamaan dengan hal itu, beberapa agen CIA menyerang mereka, yang kemudian diketahui berasal dari Voller yang kini bekerja untuk NASA.

Voller menggunakan nama Schmidt untuk sembunyikan identitas nya.

indiana jones and the dial of destiny isu nazi basi
Disney Studios Motion Pictures

Helena mengakui motivasi sesungguh nya adalah ingin menjual Dial Archimedes untuk melunaskan sejumlah hutang.

Melalui bantuan Sallah (John Rhys-Davies) yang kini hidup di New York, Indy menyusul Helena menuju Tangier.

Dalam upaya mencegah Helena di Tangier, Voller juga mengincar benda tersebut dan berhasil merebut kembali.

Akhirnya, Indy dan Helena bertekad menemukan potongan lain dari Dial Archimedes tersebut, guna mencegah niat jahat Voller.

Premis Indiana Jones and the Dial of Destiny memiliki banyak isu yang mengakibatkan film itu menjadi parodi sesat ala Disney.

Narasi Indiana Jones and the Dial of Destiny terbagi dua setting waktu, yaitu era Perang Dunia II dan era Perang Dingin.

Dalam era Perang Dunia II, Indy menghadapi Nazi, mengulangi latar film Raiders of the Lost Ark dan The Last Crusade.

Sedangkan dalam era Perang Dingin dan Hippie, Indy kembali menghadapi sang antagonis mantan Nazi.

Isu Nazi yang sudah basi, kembali hadir alih-alih mewujudkan cerita yang baru dan berbeda.

Dalam semua adegan tersebut, efek CGI melalui teknologi De-Aging, bagaikan kita menyaksikan Indiana Jones versi animasi.

sinopsis indiana jones and the dial of destiny
Disney Studios Motion Pictures

Karakterisasi dalam Indiana Jones and the Dial of Destiny mengulangi Indiana Jones and The Last Crusade dengan cara sesat.

Duo dinamis ayah dan anak dalam Indiana Jones and The Last Crusade adalah yang terbaik dalam semua hal.

Lain halnya dengan film ini, saat peran sentral Indiana Jones dibuat tidak berdaya terhadap putri baptis nya, Helena Shaw.

Itulah sebuah parodi sesat ala Disney, menghancurkan karakter Indiana Jones melalui politik identitas.

Jangankan politik identitas, Harrison Ford yang telah berusia 81 tahun, saya pikir seharusnya sudah pensiun sebagai Indiana Jones.

Indiana Jones identik dengan aksi laga yang menuntut gerak motorik fisik dinamis, sehingga mewujudkan adegan fantastis.

Tentu saja figur SJW feminis modern Helena Shaw, sangat jauh dari realita terhadap sosok perempuan.

Semua adegan laga dirinya menunjukkan bahwa kekuatan fisik perempuan, lebih kuat daripada lelaki.

Tak lupa dalam satu adegan, ia mengucapkan kata sindiran "kapitalisme" yang disamakan dengan "pencurian".

Meski tidak ada indikasi bahwa Helena Shaw adalah penerus Indiana Jones, Thank God for that, namun karakter nya sama sekali tidak menarik.

Hanya satu tindakan Helena Shaw yang saya setuju dalam adegan laga terakhir, terkait perubahan alur sejarah umat manusia.

ulasan film indiana jones and the dial of destiny
Disney Studios Motion Pictures

Oh ya, Indy sendiri sepertinya dibuatkan sebagai sang usia lanjut yang sesat di jalan.

Artinya, rumah tangga nya hancur dan ia sendiri memilih untuk tinggal di masa lalu.

Sementara di satu sisi, saya akui adegan tersebut cukup membuat saya terharu, mengingat obsesi besar Indy terhadap sejarah.

Adegan di masa itu, juga diwujudkan secara impresif dan epik, hal yang saya sukai dalam film ini.

Karakter Indiana Jones dalam film ini, tak lebih sebagai sang arkeolog uzur dalam jalan sesat dan tidak meyakinkan.

Akibatnya, Indiana Jones and the Dial of Destiny adalah parodi persembahan Disney melalui politik identitas yang sesat.

Kembalinya figur Sallah, tidak membuat hal berarti, hanya selain aspek nostalgia semata.

Meski tidak ada petunjuk, bahwa Sallah dan keluarga nya sebagai imigran ke Amerika atas bantuan Indy, apakah melalui jalur legal atau ilegal.

Figur bocah bernama Teddy sudah pasti terlupakan, jangan sesekali ingin disamakan dengan Short Round dalam The Temple of Doom.

alur film indiana jones and the dial of destiny
Disney Studios Motion Pictures

Hilang nya sentuhan magis George Lucas dan Steven Spielberg, sangat terasa mulai dari alur, adegan, aksi laga apalagi dialog.

Tidak ada sensasi berarti selama 2,5 menyaksikan film ini, kecuali aksi laga terakhir epik menjelang akhir.

Selain itu, latar adegan parade di Kota New York lumayan menyegarkan mata, meski sarat akan efek CGI.

Hal paling krusial dalam film ini, yaitu hilang nya rangkaian petunjuk menakjubkan guna menemukan benda yang dicari.

Tidak ada humor segar juga menambah derita film ini.

Indiana Jones and the Dial of Destiny adalah parodi Harrison Ford sebagai Indiana Jones versi Disney.

Indiana Jones and the Dial of Destiny juga mewujudkan narasi sesat melalui feminisme modern, ideologi politik dari Sayap Kiri Jauh yang seringkali mengejek Konservatif sebagai "Nazi". 

Demikian sinema petualangan review Indiana Jones and the Dial of Destiny, parodi sesat Disney.

Score: 1 / 4 stars

Indiana Jones and the Dial of Destiny | Aksi Laga, Petualangan | Pemain: Harrison Ford, Phoebe Waller-Bridge, Antonio Banderas, John Rhys-Davies, Toby Jones, Boyd Holbrook, Ethann Isidore, Mads Mikkelsen | Sutradara: James Mangold | Produser: Kathleen Kennedy, Frank Marshall, Simon Emanuel | Penulis: Berdasarkan karakter karya George Lucas dan Philip Kaufman. Naskah: Jez Butterworth, John-Henry Butterworth, David Koepp, James Mangold | Musik: John Williams | Sinematografi: Phedon Papamichael | Penyunting: Michael McCusker, Andrew Buckland | Distributor: Walt Disney Studios Motion Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 142 menit

Comments