9 Film Karakter Wanita Heroik yang Kontroversial

karakter wanita heroik kontroversial
Image by OpenClipart-Vectors/Pixabay

Get Woke, Go Broke! 

Istilah tersebut berlaku bagi sebagian dalam daftar 10 film yang kontroversial berkenaan dengan karakter wanita heroik yang berhasil memecah-belah penggemar, melalui waralaba populer, berkenaan dengan peringatan International Women’s Day beberapa waktu lalu.

Mengapa hal tersebut saya angkat? Karena sebagai seorang penggemar dan penikmat film, sangat disayangkan akan perlakuan Hollywood yang gagal membuat penceritaan serta pengembangan karakter bagus dan menarik terkait peran jagoan wanita, sehingga wajar saja jika menuai kontroversi.

Atas nama “woman empowerment” atau “feminisme modern” melalui narasi “anti-lelaki”, tampak jelas bahwa ideologi progresif Far-Left atau SJW (Social Justice Warrior) telah merambah ke dunia film belakangan ini.

Isu terakhir yang viral adalah saat Gina Carano yang populer melalui karakter Cara Dune dalam serial The Mandalorian, dipecat dari Disney hanya karena perbedaan opini terhadap pandangan politiknya yang berseberangan dengan mega korporat tersebut. Padahal cuitan Carano tidak melanggar hukum, sungguh ironis!

Maka jika dihitung mundur hingga sekitar tahun 2016 silam bertepatan dengan sosok yang mulai menjabat sebagai Presiden Amerika sekaligus menakutkan bagi kubu Sayap Kiri saat itu, mulai banyak kontroversi yang dibuat Hollywood untuk memecah-belah dan bahkan mengasingkan penggemarnya sendiri, serta menuduh balik penggemar sebagai radikalis Sayap Kanan.

Tampaknya kontroversi akan terus berlanjut, berkenaan dengan kampanye gerakan “feminisme modern” yang semakin bias maknanya. Maka tak heran, kritik pedas hingga cercaan datang dari para penggemar serta audiens, terlepas dari hasil kritikus melalui media maupun box office. 

Baca juga: Jangan Terpengaruh ‘Rating’ Film 

Maka “Peperangan Akbar” terjadi antara penggemar dan audiens dengan media yang diwakili kritikus, seperti kontrasnya skor penilaian di situs Rotten Tomatoes misalnya. Juga peran media sosial banyak menyalurkan opini penggemar dan audiens tatkala mereka tidak menyukai filmnya.

Dalam kurun waktu kurang dari satu dekade, akhirnya saya pilih 10 film yang mengangkat karakter wanita heroik. Adapun hal yang kontroversial, saya ambil dari berbagai sumber. Berikut adalah urutannya: 


kontroversi film oceans eight
Warner Bros Pictures
9. Ocean’s 8 (2018) 

Gender swap dalam semesta Ocean’s Trilogy ini, sejatinya adalah film medioker serta tidak sebaik pendahulunya.

Meski secara keseluruhan dinilai antara medioker hingga cukup baik oleh para kritikus, tetap saja beberapa aktris yang membintangi filmnya seperti Mindy Kaling dan Cate Blanchett, merujuk pada pernyataan Meryl Streep, berpandangan negatif dan menuding para kritikus yang didominasi pria kulit putih akan penilaian yang tidak berimbang.

Premisnya memang menarik, penuh dengan intrik dan kejutan, performa Sandra Bullock dan Cate Blanchett apik seperti biasanya, namun tidak mampu diimbangi dengan penampilan para pendukung wanita lainnya yang tidak mengesankan sama sekali, sehingga mudah larut karena terasa begitu ringan dalam sekejap. 



kontroversi film charlies angels
Sony Pictures Releasing
8. Charlie’s Angels (2019)

Elizabeth Banks sebagai penulis, sutradara serta bermain sebagai karakter pendukung dalam salah satu film versi modern terburuk sepanjang masa, Charlie’s Angels langsung menyalahkan penggemar dan audiens karena kegagalan di box office.

Secara spesifik Banks menyalahkan pria yang lebih menggemari jagoan wanita dalam film, seperti dari adaptasi komik superhero. Sederhananya, ia menyalahkan audiens pria yang tidak suka dengan filmnya tentang jagoan wanita. Sungguh analisa yang memprihatinkan.

Filmnya sendiri tidaklah berarti, bahkan dibandingkan dengan versi tahun 2000 yang begitu fun dan menghibur, melalui karakter wanita apa adanya yang memiliki hubungan normal sebagai kodratnya.

Versi 2019 ini tidak mengesankan apa-apa selain hanya menekankan bahwa wanita bisa melakukan segalanya dan tidak membutuhkan pria, selain narasi penceritaan yang tendensius alih-alih memberikan kejutan, hingga akhirnya menjadi hancur berantakan.

 

kontroversi film black christmas
Universal Pictures
7. Black Christmas (2019) 

Film feminis dengan genre horor seperti yang diakui oleh sang penulis dan sutradaranya sendiri Sofia Takal seharusnya tidak pantas berada dalam waralaba Black Christmas, sejak perbedaan besar dan bahkan jika dibandingkan dengan versi 2006.

Kontroversi adanya narasi dengan generalisasi bahwa pria kulit putih adalah sang antagonis yang bertujuan menguasai serta mengungguli wanita, disertakan melalui tema pelecehan seksual dan gerakan #MeToo.

Diperparah dengan eskekusi buruk dari sejumlah aspek krusial dalam film terutama premis, karakterisasi, dialog, serta jump scare kacangan termasuk duplikasi adegan The Exorcist III: Legion (1990), film Black Christmas sarat akan isu seksisme, misoginis, rasisme serta pelecehan dan bullying dengan penyampaian yang sangat mentah dan kasar. 

Wajar jika penilaian audiens begitu buruk, serta performa filmnya yang mudah terlupakan. Karena berada dalam waralaba Black Chistmas maka film ini pun hanya menjadi bahan lelucon dibandingkan dengan versi orisinalnya.



kontroversi film terminator dark fate
Paramount Pictures, 20th Century Fox
6. Terminator: Dark Fate (2019)

Waralaba populer yang sangat dicintai penggemarnya itu seharusnya menjadi antisipasi besar, saat James Cameron kembali menangani Terminator: Dark Fate. Hanya karena ulah Tim Miller menyerang penggemar sebagai misoginis karena mengkritik karakter Grace berdasarkan estetika serta karakterisasinya, sejak cuplikan film ditayangkan.

Cerita yang ditulis hingga enam orang itu, tak lebih sebagai nostalgia belaka sejak kembalinya Linda Hamilton dan ada cameo akan kehadiran Edward Furlong, karena tidak memiliki poin signifikan selain hanya pergantian karakter semata dan kembali menjadi sekuel alternatif, karena saya lebih memilih sekuel Terminator: Rise of the Machines (2003).

Kerugian besar yang diderita film ini jelas membatalkan rencana sekuel atau trilogi baru. Waralaba Terminator semakin hancur dan sudah tidak perlu disentuh lagi.


kontroversi film no time to die
United Artists, Universal Pictures
5. No Time to Die (2021) 

Peran media sangat mempengaruhi opini para penggemar serta audiens, saat menghasilkan bias bahwa agen 007 James Bond selanjutnya adalah seorang wanita kulit hitam yang diperankan oleh Lashana Lynch, menggantikan Daniel Craig untuk perannya yang terakhir kali.

Meski filmnya belum tayang karena sejumlah penangguhan akibat pandemi COVID-19, No Time to Die saya rasa tetap bakal kontroversial karena berkaitan dengan salah satu penulisnya yakni Phoebe Waller-Bridge.

Seperti yang pernah ditegaskan oleh Barbara Broccoli, bahwa karakter James Bond tetaplah seorang pria, tetap saja belum membuat tenang para penggemarnya. Saat melihat cuplikannya, saya lebih memilih karakter May Day yang diperankan Grace Jones dalam A View to a Kill (1985).


kontroversi film mulan
Walt Disney Studios Motion Pictures
4. Mulan (2020) 

Bukan karakterisasi dalam film versi live-action-nya, melainkan ulah sang pemeran utama, Liu Yifei yang secara kontroversial pernah mengatakan bahwa ia mendukung kepolisian China saat melakukan penganiayaan dalam menghadapi para demonstran Hongkong.

Isu panas tersebut, mempengaruhi karirnya sekaligus promo film yang sempat viral dengan seruan boikot. Selain itu pula Disney yang tampaknya tunduk terhadap China pun turut mendukung, setelah mereka melakukan syuting di wilayah Xinjiang yang terdapat kamp konsentrasi penindasan warga minoritas Uighur. 

Hipokrasi Disney memang selalu eksis dan bakal terus ada. Film Mulan sendiri ditambah dengan pandemi COVID-19 mengalami kerugian finansial dan inferior dibandingkan dengan keunggulan versi animasinya di tahun 1998 silam.


kontroversi film ghostbusters
Sony Pictures Releasing
3.Ghostbusters (2016) 

Ghostbusters versi 2016 memiliki “Dislike” sebanyak 1,1 juta dibandingkan “Like” sebanyak 316 ribu dalam cuplikan filmnya di Youtube.

Skor buruk dari audiens setelah filmnya tayang, jelas membuat aktris Leslie Jones gerah dan bahkan sineas Paul Fieg yang mendukungnya, dengan sama-sama penyerang penggemar melalui akun Twitter mereka.

Sebenarnya tidak salah jika mereka membuat versi perempuan, jika saja penyajian secara keseluruhan menarik, tetap kocak berkualitas serta tidak ada politik identitas.

Hadirnya Bill Murray dan Dan Aykyord hanya sebagai cameo belaka tanpa melibatkan karakter orisinal mereka, juga memperburuk nilai filmnya itu sendiri. Banyak hal yang dipaksakan dalam film ini, termasuk komedi dan humor garing serta efek visual yang mengganggu bagaikan film animasi.

 

kontroversi film star wars the last jedi
Walt Disney Studios Motion Pictures
2. Star Wars: The Last Jedi (2017) 

Boleh dikatakan sebagai warlaba terpopuler sepanjang masa, kebesaran nama “Star Wars” begitu terasa di berbagai belahan dunia pada setiap generasi dan berbagai rentang usia. 

Banyak sekali hal yang terjadi sehingga trilogi sekuel versi Disney tersebut menjadi tanda tanya besar merujuk pada film pertama The Force Awakens (2015) hingga dampaknya pada film The Rise of Skywalker (2019).

The Last Jedi merupakan inkonsistensi Rian Johnson terhadap film pendahulu, karakterisasi Rey bagaikan Marry Sue serta “pembunuhan karakter” terhadap Luke Skywalker, hingga munculnya Rose Tico dan Holdo, maka sayapun bahkan lupa setelah sesaat nonton filmnya, bahwa itu adalah “Star Wars”.

Buruknya kepemimpinan Kathleen Kennedy membuktikan bahwa mereka tidak memiliki konsep matang dalam mengembangkan trilogi sekuel sekelas Star Wars dan bahkan menyingkirkan ide yang ditawarkan George Lucas sendiri, sesuai dengan pengakuan Bob Iger.


Sebelum lenagkah menuju urutan nomor 1, terdapat sejumlah serial yang tak kalah kontroversialnya, seperti Supergirl (2015), atau juga Star-Trek: Discovery (2017) dan Dr. Who (2018) yang menukar gender dalam peran utama dari pria menjadi wanita. Sedangkan serial Batwoman (2019) memiliki penilaian yang sangat rendah. Akahkah serial animasi Star Wars: High Republic (2021) akan mengalami hal yang sama?

 

kontroversi film captain marvel
Walt Disney Studios Motion Pictures
1. Captain Marvel (2019) 

Siapa yang tak kenal film ini, maupun pemeran utamanya yakni Queen Brie (maksudnya, Brie Larson) dalam komentarnya yang menyerang kritikus didominasi oleh pria kulit putih yang subjektif dalam penilaian film?

Maka proteksi dilakukan oleh studio dan media hingga akhirnya kritik pun tunduk terhadapnya, mulai saat kampanye hingga penayangan Captain Marvel yang berusaha keras untuk menggapai pendapatan tinggi.

Hingga waktu pun yang menentukan, turunnya penilaian baik dari kritik maupun audiens, serta kontroversi akan sejumlah kursi kosong di berbagai bioskop Amerika, menjadi salah satu faktor penentu bahwa Captain Marvel bakal terlupakan.

Sebaliknya, film tersebut memang sengaja ditempatkan sebagai “jembatan” menuju film Avengers: Endgame yang tayang beberapa bulan setelahnya, sehingga banyak penggemar yang penasaran.

Film Captain Marvel jelas terasa sangat membosankan dan hambar melalui karakterisasi dingin (hati, jiwa, emosi), anti-pria kulit putih serta perubahan (gender, warna kulit, seksualitas) terhadap sumber aslinya yang terdapat dalam komik.

Daripada dituduh sebagai seksis maupun misoginis oleh para SJW dan elit hiprokit, maka seperti yang pernah saya bahas sebelumnya, terdapat sejumlah karakter heroik wanita pilihan atau favorit saya, yang menjadi rekomendasi serta pantas untuk dinikmati. Untuk lebih jelasnya silahkan klik artikel 10 Karakter Wanita Heroik dalam Film.

Comments